5.4.15

things were all good yesterday

After all complains to this repetitive situation
Finally a single thought comes to mind
As I look up to my 17-year-old self
Asking, what will 'You' do now?

Easy works, expected reality, even sometimes still far from my dreams
Now it's moving away, getting out of reach.
Setting out my foot to find another dreams, or maybe reality
I'm not ready. I'm still far from ready.

Leaving everything behind.
Friends. Young love. Laughter.
From what I used to feel, and now will reside as memories.
Will it stay the same? Will you stay the same?

Penulisjournal.

25.3.15

Mohon Maaf, Pak

Beberapa bulan ini gue lagi sibuk dan sering mengalami sakit hati karena ditolak.

Memang umur 17 tahun seperti gue wajarnya sih ditolak sama cewek-cewek cantik (baca: gebetan).

Nah, sekarang ini gue malah ditolaknya sama mas-mas, dan om-om berumur 30an.

Sebelum terjadi kesalahpahaman, beginilah ceritanya...

Memulai sebuah bisnis adalah rencana yang telah gue persiapkan bersama satu teman gue sejak Desember tahun lalu. Intinya, kita butuh tempat semacam restoran/kafe. Keyakinan ini membuat kita berpikir keras harus ngapain biar punya tempat.

Rencana awal adalah sewa ruko. Setelah melakukan search google, kita sadar kalo kita gak akan mampu menyewa ruko, karena harga sewa ruko 1 tahun mencapai 100 juta dan itupun udah termasuk salah satu yang harganya minimum. Akhirnya kita mencoba mencari solusi dari masalah sewa ruko.

Pinjem bank.

Dan ternyata gak bisa. Kampret.

Umur gue dan teman gue belum 21 tahun, belum bisa buat pinjam uang dari bank. Memang sih kalo dijumlah umur kami bisa jadi 34 tahun, tapi bank tentu saja gak akan memberikan pinjaman pada 2 anak idiot yang merasa sudah cukup umur karena umurnya dijumlahkan.

Di sore super membingungkan itu, solusi cemerlang datang dari otak gue, dan dari pengalaman belajar biologi. Kita akan mencoba menerapkan sistem simbiosis mutualisme. Simpelnya, gue nebeng tempat di restoran/kafe orang, mereka kasi kita tempat, kita kasi mereka rent cost. Kelar.

Udah happy-happy, membayangkan semua akan lancar, dan hidup serasa punya asuransi kesenangan.

Ternyata realita gak segampang itu. Kampret.

Balik ke cerita awal, pada 2 bulan terakhir ini gue ditolak sekitar 11 om-om. Alasan juga beragam macam, tapi... yaudah mau gimana lagi. Mereka emang rugi gak akan merasakan hoki yang akan gue bawa. (Atau sebaliknya, mereka hoki gak akan merasakan rugi yang gue bawa?)

Gue jadi merasa kolonel Sanders dari KFC yang resep ayamnya ditolak sampe 1009 kali itu sangat... gabut. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menerima penolakan. Asumsinya dia ditolak sekali sehari, berarti dia menghabiskan waktu sekitar 2 setengah tahun untuk ditolak orang. Gabut maksimal.

Paling enggak sekarang udah ada satu yang hampir fix. Tinggal meeting sama manager dan owner-nya di bulan April. Well, wish me luck.

Jadi gimana, Pak?
Penulisjournal.

17.3.15

writing the ordinary

Peringatan: ini akan menjadi salah satu post yang cukup wasting time untuk dibaca. (Akan membuang waktu penting sekitar 3-4 menit dalam hidup anda.)

Jadi kalo lu masih lanjut baca tulisan ini sekarang, berarti lu termasuk mereka yang gabut dan gak tau mau ngapain, atau mereka yang penasaran banget sama hidup gue yang gak penting-penting amat. (Tapi gue rasa lu pasti termasuk yang pertama sih...)

Pokoknya jangan salahin gue karena emang post ini gak penting... dan kalo emang uda terlanjur mau baca, yaudah baca aja.

Jenis postingan writing the ordinary adalah jenis post lama yang sering gue buat dulu sewaktu masa-masa labil SMP. Postingan gak bertopik utama, isinya cuma random ordinary life tentang hidup gue aja.

Tepat kemarin, gue baru menyelesaikan semua ujian sekolah yang sempet membuat pagi hari gue diisi dengan rasa ngantuk tapi deg-degan.

Pada suatu pagi sebelum berangkat ke sekolah, gue sedang bermeditasi santai di WC sambil buka Instagram, tiba-tiba suasana WC menjadi agak sedih, karena gue melihat sebuah foto bertuliskan, '1 bulan lagi meninggalkan masa abu-abu.'

Pas baca itu, rasanya gue sedih banget.

Entah kenapa, gue merasa akan kehilangan masa-masa itu. Masa-masa ngatain guru pas lagi belajar, liatin gebetan, ijin ke toilet yang tujuannya bukan buat buang air tapi malah buang waktu, tidur di kelas, bolos pelajaran buat ke kantin... Sedih banget.

---

Lalu sekitar dari 1 minggu yang lalu, gue sudah cukup nekat bawa mobil ke sekolah, sukses sih... tapi parkir gue masih belum layak untuk diapresiasi.

---

Masalah hati gue sudah terhapuskan, gue gak punya perasaan lebih pada manusia lain apapun sekarang ini.

---

Ada hal yang masih harus gue tunggu, dan gue harap semua akan berjalan dengan baik.

---

Okay, it's long enough to be considered as a post, and also a note to myself.

Written,
Penulisjournal.

16.3.15

cewek dan fitting room

Cewek dan fitting room adalah dua hal yang kalo berinteraksi akan menimbulkan reaksi yang sangat membosankan.

Jadi pada suatu ketika... gue nemenin seorang cewek belanja baju.

Sebelum masuk ke cerita, ketika cowok mau belanja baju atau apapun itu, cowok akan fokus pada sekitar 5-6 calon baju yang mungkin akan dia beli, dan setiap detik jumlah bajunya akan terus berkurang disesuaikan dengan isi dompet yang sedang dia pegang.

Sementara cewek akan berpindah dari satu baju ke baju yang lain, dan bahkan akan tetap juga melihat baju-baju yang sangat gak berpotensi untuk dibeli.

Hal paling mengerikan saat nemenin belanja baju adalah ketika dia mulai masuk fitting room...

Saat dia masuk ke fitting room, dia akan menghilang ke dalam sebuah tempat sejenis lubang hitam dalam waktu yang sangaaaaat lama, dan gak ada hal yang bisa lu lakukan cuma kalo gak diem, duduk, yah paling bengong.

Hal paling mengerikan selanjutnya adalah ketika lu sadar waktu seorang cewek balik dari fitting room, dia gak pegang baju apa-apa.

Buat yang belum ngeh, simpelnya.

Harus. Nunggu. Lebih. Lama. Lagi.

...

Surga adalah ketika dia bilang, 'Udah nih.' Sambil pegang-pegang baju pake senyum seneng.

Momen yang gue rasakan ketika dia bilang itu mirip sama ketika lu lagi bengong tiba-tiba ada yang ngasih martabak Nutella. Pokoknya kombinasi seneng, lega, sama bahagia.

Kesimpulan dari perjalanan gue hari itu, jangan pernah dateng ke toko baju yang gak punya sofa buat nunggu. Percaya deh, tanpa sofa, nemenin cewek secakep apapun, rasanya tetep kayak neraka.

Jadi udah belom,
Penulisjournal.

23.2.15

Review match-making app, Tinder.

Berhubung jomblo, temen gue memperkenalkan gue dengan aplikasi di hp bernama Tinder.


Tinder adalah sebuah aplikasi pencari jodoh yang menunjukkan foto cewek-cewek jomblo yang juga pake Tinder, dan yang berada di radius sekitar 1-100 km dari kita.

Terus cara pakenya simpel banget. Kalo gak suka fotonya, swipe ke kiri. Kalo suka fotonya, swipe ke kanan. Intinya supaya dipilih, kita harus memasang foto sebagus mungkin supaya pas dilihat gak langsung di swipe ke kiri.

Tapi... orang-orang memang selalu unik dan tidak terduga.


Jadi pas gue make app ini, selalu aja ada foto-foto yang absurd dan membuat gue pengen komenin. Jadi gue screenshot, dan here we go.

Cowok manapun gak akan berani like foto ini... Kalian tahu alasannya.

Liat fotonya musti muter-muterin hp. Belum kenal aja udah ngerepotin.


Terus kalo gini siapa yang bakalan like...

Contoh wanita karir yang sangat sibuk ketemu jodoh in-person. iPad aja sampe 2.

Why... just why.

Bahkan sulit untuk menentukan dia cowok atau cewek.

Orang ini perlu membedakan antara Tinder dengan Instagram.

Meskipun cakep. Gue gak mau pacaran sama ikan.



Sejauh ini sih, gue masih belum menemukan match yang tepat.


Ralat. Sejauh ini, gue masih belum menemukan match sama sekali.

Ya, gue juga gak berharap lebih sih sama app kayak gini, karena jodoh itu kan seharusnya dilihat dari hati dan gak cuma fisik.

...

Tapi kalo ada yang cakep boleh juga sih,
Penulisjournal.

10.2.15

saya dan kamu.

di saat saya terbangun di pagi hari,
kamu bukan lagi orang pertama yang ada di pikiran ini.
seperti dedaunan ringan yang terbawa angin,
perlahan kamu pindah, dan hilang dari hati ini.

lalu sejak saat itu, saya terus berjalan,
melewati sebuah jalan hitam pekat penuh kesendirian.
dan kamu pun datang dan menawarkan cahaya,
tetapi saya menolak dan memilih bertahan dalam gelap.

saya dan kamu memang aneh dan gak sama.
bila diteruskan, kita berdua pasti tahu apa yang menunggu di akhir.
tapi, dengan hati jujur saya pernah suka kamu.
mungkin pernah, dalam jangka waktu yang cukup lama.

Penulisjournal.

3.2.15

RT memang sudah gak ada

Udah lama aja gue ngerasa gak pernah nulis post di saat lagi niat. Biasanya post selalu gue ketik, save, masuk ke draft 2 hari, revisi, baru di post.

Untuk post kali ini mungkin gak kayak gitu, gue akan ketik tanpa revisi sama sekali.

Jadi di saat ini banyak hal yang lagi disibukkan oleh gue, seperti contohnya masalah KTP.

Gue kemarin ini baru berumur 17, gue akhirnya setelah menunggu lama bisa dikasih nyetir juga.

YEAAAAAAY!!!

Tapi. (Ya, ada tapinya...)

Syarat sebelum gue nyetir dari bokap adalah gue harus punya SIM, dan buat bikin SIM, gue musti punya KTP. Jadi balik lagi ke masalah buat KTP... (Gue males membuat alur yang rapi jadi agak mengulang gak apa-apa deh ya.)

Untuk membuat KTP, ternyata gue harus minta surat ijin terlebih dahulu ke RT, setelah dapet alamat RT dari hasil nanya satpam rumah dan bokap, gue pergi ke alamat yang dikasih.

Di malam hari, gue berdiri sendirian di depan sebuah rumah yang setengah ancur gara-gara renovasi, sambil megangin selembar kertas alamat.

Ya intinya RT gue pindah rumah, dan gak ada yang tahu dia kemana. Seolah dia hilang diculik alien. (Apa mungkin alien beneran ada?)

Setelah itu gue pulang ke rumah, gue merasa harapan gue hilang...

Tapi tiba-tiba bokap masuk ke kamar gue dan bilang,

'RT memang sudah gak ada... tapi kamu bisa kok buat langsung ke RW.'

Percakapan teraneh sama bokap di malam itu seolah-olah si RT adalah salah satu anggota keluarga yang harus gue sedihkan. (Ya intinya sih harapan gue bikin KTP gak jadi hilang karena kemunculan RW yang baik hati.)

Okay sebenernya post kali ini cuma dibuat karena gue lagi mau refreshing (kabur) dari tugas mengarang yang membosankan, gue seharusnya kelar jam 8 dan sekarang udah mau jam 11...

Ahirnya legal bro,
penulisjournal.

31.1.15

Penutup Januari

Astaga, malem minggu gini hujan... doa para jomblo dikabulkan. (Iya, para jomblo. Salah satunya gue.)

Tapi sekarang udah hujan, gue laper, gue jomblo lagi. Emang nasib.

Anyway disaat random ini gue mendadak kepikiran, kenapa ya ada aja cewe yang bisa keluarin statement, 'Cowok kalo gak brengsek ya homo.'

Yang terpikir di otak gue adalah, 'Terus bokap lo termasuk yang mana?'

Berhubung gue merasa bokapnya gak mungkin homo (karena dia punya anak cewek), berarti bokapnya pasti termasuk yang brengsek. Di saat anaknya bisa keluarin statement itu, berarti dia kemungkinan gara-gara habis putus sama cowok yang brengsek, dan gimana anaknya gak putus sama cowok brengsek, karena itu karma dari bokapnya pas masih muda juga brengsek.

Okay, kegabutan gue sebagai jomblo mendorong gue untuk berpikir sangat aneh untuk sekarang ini.

Dari tadi suara petirnya kenceng banget, kayaknya ini sebagai pertanda semua masalah yang terjadi di Januari ini akan disapu bersih oleh hujan. (Apasih.)

Gak tau kenapa. Awal Januari merupakan momen-momen yang bahagia buat gue, tapi akhir Januari ini gue merasa lelah aja sama semua ini, gue pengen memulai sesuatu yang baru, yang bisa membuat gue hidup dan semangat lagi.

Gue juga mau memulai semuanya lagi sama lu.

Tapi untuk sekarang gak bisa,
penulisjournal.

21.1.15

Mosi kita hari ini.

Cerita perjalanan gue di dunia debat diawali dengan pergi bertiga bersama temen gue, latihan di sebuah restoran selama 3 jam sama seorang alumni lomba debat yang secara fisik beda tipis sama beruang coklat yang ada di gunung Amerika, tapi suaranya melambai halus kayak cewek.

Dari awal gue gak begitu yakin kalo si beruang gendut bernada banci ini bisa ajarin gue debat, tapi semakin banyak kata yang keluar dari mulut dia, semakin juga gue respect sama dia. (Kalo gue homo mungkin gue bakal tertarik sama dia.)

Ekspektasi gue mengenai debat berubah drastis. Debat ternyata gak cuma harus bagusin pemilihan kata dan be as persuasive as you can, tapi debat yang sebenarnya adalah debat informasi, dan pengetahuan. Kita harus riset, tau banyak hal, dan up to date sama masalah sosial yang ada sekarang ini.

Buat seseorang yang awam, mungkin nganggep dengan asal ngomong dan ngotot bisa bikin orang menang di lomba debat. Tapi simpelnya menurut gue, semakin gede seseorang asal ngomong dan ngebacot, semakin seseorang itu kelihatan bego.

Gak kayak cerita peserta-peserta debat lainnya yang latihan berpuluh kali atau ikut ekskul debat di sekolahnya, jumlah latihan gue cuma 2 kali dan itupun 2 hari sebelum lombanya dimulai. Meskipun begitu, gue gak merasa less pede sedikit pun, mungkin karena gue suka challenge.

(Gaklah sebenernya gue grogi setengah mati.)

Anyway, hari lomba gue dimulai. Komposisi peserta debat itu ada 3, first speaker, second speaker, dan third speaker. Meskipun gak begitu kenal sama first speaker gue, disini dia berperan jadi senior debat yang (emang harusnya) paling pro kalo soal ngomong. Jadi wajar aja sih kalo dia bisa ngomong sampe batas waktu maksimal.

Second speaker gue to be honest, gak begitu jago pas ngomong. Tapi to be honest lagi dan no homo, dia cukup ganteng. Gue terkadang cuma berharap pas dia maju, juri cewek gak bisa konsen dengerin dia ngomong, malah fokus ke muka dia, terus akhirnya secara random ngasih nilai tinggi.

Gue sebagai third speaker yang masih pemula gak bisa berkontribusi banyak saat itu. Momen pas maju, gue pas ngeliat ke arah lawan, gue merasa kayak dibenci banget. Pas gue liat ke arah temen gue, mereka kayak selalu masang muka 'ngomong-lu-masih-kurang-asu.'

Tapi gimana pun pada akhirnya, dengan komposisi tim yang absurd ini, kita bisa meraih juara... harapan 1.

Buat gue sendiri, debat mengubah cara pikir gue menjadi lebih logis dan rajin, membuat gue melihat sesuatu dari sudut pandang yang terkadang gak terpikirkan orang lain, intinya gue gak nyesel sama sekali tau tentang debat, dan malah gue nyesel udah gak bisa debat lagi.

Sekian argumen dari saya, terimakasih.
penulisjournal.


thanks.

-post singkat untuk mengingat lomba debat pertama di hidup gue. post ini gue kasih untuk sahabat debat sinin dan levi.

16.1.15

trip to the jungle.

Jadi untuk mengakhiri tahun 2014 ini, gue bersama 4 orang teman gue memutuskan untuk pergi ke Jungle Land, Sentul.

Bangun dan berangkat jam 7 pagi, padahal baru tidur jam 3 pagi. Hal ini disebabkan 2 dari temen gue nginep di rumah gue, dan seperti nginep-nginep pada umumnya, berisik. Gue gak bisa tidur. Mereka gak kasih gue tidur.

Setelah jemput beberapa temen sisanya, kita mengambil jalan tol, ditemani waze, pergi ke Sentul.

Sampe disana, kita agak menyesal karena gak melakukan riset terlebih dahulu, harga tiket masuk kita hari itu 130k, itu adalah harga promo pake BCA, sementara ada promosi dari Hydro Coco yang harganya jauh lebih pengertian...

Marketing sialan.
Setelah beli tiket, kita foto di depan Jungle Land, terus masuk ke bagian dalam Jungle Land.

Pokoknya gue yang paling ganteng.

Seperti anak-anak lain pada umumnya.
 To be honest, wahana disana gak sebanyak di Dufan, tapi cukup buat bikin gue muntah 2 kali disini.

Gak nyangka gue sanggup naik ini.

Gak serem.

Gue teriak naik ini....

Look at our happy faces :)

 
So long, Jungle Land.

penulisjournal.

before i die, i want to.

Post ini dibuat terinspirasi dari ide ke 81 dari link ini, which is menulis hal-hal yang mau gue lakukan sebelum gue koit.

So, here it is. Hal-hal yang mau gue lakukan sebelum gue mokad.


---

- Beliin ortu apapun yang mereka mau.

Emang menurut gue, sudah seharusnya menjadi impian semua anak dimanapun mereka berada buat bahagiain orang tua mereka masing-masing.

Berhubung mereka udah memberikan investasi sampai gue bisa hidup berpuluh-puluh tahun, dan gue gak dibiarkan mokad dalam beberapa hari seperti peliharaan-peliharaan gue pada umumnya, tentunya gue pengen banget bisa balikin itu semua. As soon as possible.

- Pergi sama pacar ke luar negri.

Gak perlu panjang-panjang banget sih. Tapi kayaknya kalo bisa gini, terus foto dan dipamerin ke social media. Rasanya... bakal keren banget.

- Punya Ducati.

Berhubung gue sebenernya lebih prefer naik motor daripada mobil. Kalo gue punya duit berlebih, gue bakal beli Ducati. Meskipun di Jakarta motor gede kayak Ducati gak begitu berguna (karena Jakarta is too fucking macet), tapi keren aja kalo skenarionya kayak gini.

{Reuni SMA setelah 15 tahun}

Temen A, 'Lu bawa mobil apa sekarang?'
Gue, 'Ah, gue mah bawanya motor.'

Pas keluar, tau-tau harga motor gue sama kayak harga mobil dia.  

(Keren banget gak sih...)

*Tapi kalo hujan, rencana ini pasti gagal, dengan memalukan...

- Ngajak anak gue Muay Thai.

Berhubung gue punya ketertarikan di Muay Thai, begitu anak gue udah cukup umur, gue bakal ajak dia buat ikut training bareng gue. Gak peduli dia bisa atau enggak, gak peduli dia sanggup atau enggak. Intinya, gue cuma mau pamer doang ke dia kalo bokapnya adalah seseorang yang gak dengan gampang bisa dijatuhkan. (dan sekaligus adalah seseorang yang bisa gebukin maling yang masuk ke rumah sampe pingsan.)

(Tapi gak berlaku sih kalo malingnya masuk ke rumah bawa senjata.)

---
Nah, kalo gue udah kesampean ngelakuin hal-hal diatas, gue baru nantinya bisa...

Rest In Peace,
penulisjournal.

hidup yang tidak sempurna

"Terakhir kali makan indomie kapan?" "Mungkin 2 tahun lalu kali ya, itu pun gak sengaja karena ditawarin." Kata Sam, tem...