Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan

6.5.16

Stacks

Bersih. Bersin.

Rumah yang sekarang gue tinggali sudah gue tempati sejak lahir. Jadi, belum ada sekalipun gue merasakan apa yang namanya 'Pindah rumah.'

Punya rumah yang konsisten dalam waktu 18 tahun merupakan hal yang fine-fine saja, karena gue jadi gak perlu repot-repot menghafal lagi alamat dan nomor telfon rumah baru. (Bahkan kalo ditanya yang sekarang aja, gue masih belum tentu hafal.)

But, here's the bad news. Setelah 18 tahun tinggal, gue baru menyadari adanya keberadaan salah satu sudut rumah di dekat area gantungan baju yang selalu menjadi sasaran penumpukan barang, dan akhirnya sekarang terlihat menjadi gudang ke-2.

Akhirnya pada 5 Mei 2016, gue memutuskan untuk menghapuskan tradisi 'Numpukin-barang-di-sudut-ruangan'. Didampingi oleh asisten setia gue (baca: mbak), gue bongkar semua kardus-kardus dan kantong plastik. Moral of the story dari bersihin rumah adalah.

1. Gunakan masker + sarung tangan
2. Jangan tumpukin barang
3. Makanlah sebelum beraktivitas
4. Manfaatkan mbakmu sebaik mungkin
5. Udah.

Anyway, gue menemukan beberapa hal yang cukup menarik dari pembersihan kemarin. When I got time, I'll picture some of those.

Uhuk,
Penulisjournal.

25.4.16

naik tanggal

Recently, gue baru aja re-open bisnis shisha gue yang sempat vakum selama 3 bulan. Buka lagi di restoran dengan billiard-game concept. Dalam beberapa minggu belakangan ini, gue got a lot of new business challenge. Tapi gue senang bisa back on the track dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang membangun diri gue. (Instagram: @ipoolshisha)

1 minggu lalu gue melewati UTS terakhir, dan gak kerasa dalam 3 bulan gue akan resmi menjadi mahasiswa semester 3. Which means, terbuanglah sia-sia satu tahun gue bolak-balik dari rumah ke Untar.

Well, gak sia-sia banget sih.

I got some new connections, tapi dengan sadar gue memiliki rencana untuk gabung di UKM-UKM lain, supaya kenalan semakin banyak lagi dan who knows I may also found out something fun on UKM.

Rencana LDR 1 tahun batal karena... dia balik dadakan. Spent some days with her and there she goes... back into thin air. Tapi gak apalah yang penting gak putus.

Oh, I just created a new YouTube account. Namanya Kevin Adri. I'll be posting out about vlogs of things yang berupa event-events, some weird shit theories, dan mungkin beberapa hal lain yang belum sempat terpikirkan. Anyway, as always. Like, Comment, & Subscribe for more videos. (But seriously, do it.)

Those are some updates yang bisa gue share. Actually ada beberapa post yang pending mengenai kepribadian gue, jalan-jalan gue ke Kidzania dan tentang beberapa hal yang cukup mengganggu gue belakangan ini. I'll write lagi kalau udah ada waktu... lagi.

Full-stop punctuation,
Penulisjournal.

23.9.15

getting high

Rabu lalu, gue baru minum-minum lagi, bahkan dengan orang-orang yang baru gue kenal, gue mempelajari gaya-gaya favorit cewek saat mabok.

Biasanya ini fase awal, cewek yang suka banget ngomong akan semakin suka ngomong, lalu lama-kelamaan, mereka mulai meningkatkan volume suara dan memulai... gaya teriak-teriak.

Sambil dengerin musik keras dan dubs-dubs, cewek akan menaik-turunkan kepalanya mengikuti beat musiknya, terkadang bisa dari skala yang santai sampe yang sangat kuat. Gue menyebut gaya ini, gaya 'Heads up and down, party hard.'

Setelah minum kebanyakan, mereka bakal mulai mengeluarkan gaya 'Gua-mau-ke-WC'. Biasanya dengan sok kuat, mereka akan berjalan sendiri sambil megang benda apapun di sekitar mereka. Gaya 'Gua-mau-ke-WC' biasanya dikombinasikan dengan satu gaya yang sering banget ngerepotin kaum non-mabok. Which is, gaya jatoh secara ngagetin.

Kalau udah sukses balik dari WC (setelah jatoh berkali-kali), mereka akan melakukan sebuah gaya final, yaitu gaya tidur dimana aja. Biasanya mau gak mau, cewek jenis ini akan merepotkan temannya sampe harus digotong bersama ke mobil.

Burp,
Penulisjournal.

6.5.15

'indomie dua, telor setengah mateng'

Lagi enaknya mimpi, tiba-tiba gue dibangunin.

'Vin... bukain pintu buat mbak, Vin.'

Mbak gue yang sudah tua itu tiba-tiba mau pulang kampung. Ini disebabkan bukan karena dia lupa tanggal lebaran, tapi karena dia dan suaminya yang ada di kampung lagi ada masalah. Katanya sih dia dituduh selingkuh... sama kuli yang ada di sebrang rumah (ternyata hidup seorang mbak-mbak pun bisa kayak di FTV...)

Akhirnya dengan menggunakan semua tenaga dalam yang gue miliki, gue menuruni tangga dan sampai di lantai bawah. Mata gue terbuka sebelah, tanda masih sangat sangat sangaaaaat ngantuk, dan mbak gue masih bisa bilang, 'Vin, ini di cek dulu satu-satu bawaan si mbak...'

Gue dengan mata elang melihat kalo bawaan dia hanya 2 kardus indomie diiket tali, sama satu tas ransel yang sangat gemuk. Gue dengan suara berat dan nada agak ngusir, 'Udah-udah gak usah... sini kuncinya.'

Terus dia keluar dari rumah, gue kunci pintunya. Gue tidur lagi.

Udah kok itu aja.

Gak deh.

Ternyata karena dia pulang, mbak gue gak bisa balik lagi...

Mbak gue ijin pulang kampung selama 1 minggu, di hari ke-4 dia telpon nyokap gue dan ngabarin kalo dia gak dikasih kerja lagi sama suaminya...

(Gue jadi berpikir apa ini salah gue, coba kalo hari itu gue susah dibangunin, dia gak bakal dibukain pintu, dan bakal masih tetap kerja disini...)

Meskipun dia udah cukup tua, agak budek, suka ngomong jawa yang gue gak nangkep dan mobilitasnya agak lambat. Tapi kemampuan bikin Indomie dan telor ceplok setengah mateng dia yang rasanya bintang 5, membuat gue gak bisa merelakan kepergian dia...

Sekarang gue jadi gak bisa bebas jalan-jalan di rumah gak pake baju dan cuma pake kolor... Gue cuma berharap semoga mbak barunya bisa beradaptasi dengan keanehan gue.

mbak... sing ngendi,
Penulisjournal.

5.5.15

better.

May 4th, 2015.

Gue mengetik post ini dengan perasaan senang dan lega, post ini akhirnya gue bikin juga, post yang menandakan kalo gue akan segera mulai bisnis.

It's quite early for anak seumuran gue, seseorang yang bahkan baru mau masuk kuliah semester 1. Tapi siapa tahu dari hal ini gue bisa belajar lebih, dan mulai lebih awal kan gak ada salahnya juga?

Jadi setelah rapat terakhir kemarin, gue fix melakukan kerjasama dengan salah satu restoran yang ramai dikunjungi orang. Contract agreementnya udah dibuat, tinggal sedikit revisi dan diskusi lagi, Bulan Juni gue akan start.

Gue inget semua berawal dari kamar gue, Desember 2014, ide yang dulu terasa sangat jauh itu sekarang sudah terealisasikan 70%. Semua step meskipun agak lambat akhirnya berjalan juga sesuai harapan.

Akhirnya setelah semua perjuangan gue, interview orang, survey harga, ketidakbisaan gue tidur, gue akhirnya jalan juga.

Semua sudah dipersiapkan dengan matang, dan semoga berhasil sesuai dengan ekspektasi.


Dan akhir kata, gue merasa... gue sekarang sudah mulai bisa tidur lagi.
Penulisjournal.

25.3.15

Mohon Maaf, Pak

Beberapa bulan ini gue lagi sibuk dan sering mengalami sakit hati karena ditolak.

Memang umur 17 tahun seperti gue wajarnya sih ditolak sama cewek-cewek cantik (baca: gebetan).

Nah, sekarang ini gue malah ditolaknya sama mas-mas, dan om-om berumur 30an.

Sebelum terjadi kesalahpahaman, beginilah ceritanya...

Memulai sebuah bisnis adalah rencana yang telah gue persiapkan bersama satu teman gue sejak Desember tahun lalu. Intinya, kita butuh tempat semacam restoran/kafe. Keyakinan ini membuat kita berpikir keras harus ngapain biar punya tempat.

Rencana awal adalah sewa ruko. Setelah melakukan search google, kita sadar kalo kita gak akan mampu menyewa ruko, karena harga sewa ruko 1 tahun mencapai 100 juta dan itupun udah termasuk salah satu yang harganya minimum. Akhirnya kita mencoba mencari solusi dari masalah sewa ruko.

Pinjem bank.

Dan ternyata gak bisa. Kampret.

Umur gue dan teman gue belum 21 tahun, belum bisa buat pinjam uang dari bank. Memang sih kalo dijumlah umur kami bisa jadi 34 tahun, tapi bank tentu saja gak akan memberikan pinjaman pada 2 anak idiot yang merasa sudah cukup umur karena umurnya dijumlahkan.

Di sore super membingungkan itu, solusi cemerlang datang dari otak gue, dan dari pengalaman belajar biologi. Kita akan mencoba menerapkan sistem simbiosis mutualisme. Simpelnya, gue nebeng tempat di restoran/kafe orang, mereka kasi kita tempat, kita kasi mereka rent cost. Kelar.

Udah happy-happy, membayangkan semua akan lancar, dan hidup serasa punya asuransi kesenangan.

Ternyata realita gak segampang itu. Kampret.

Balik ke cerita awal, pada 2 bulan terakhir ini gue ditolak sekitar 11 om-om. Alasan juga beragam macam, tapi... yaudah mau gimana lagi. Mereka emang rugi gak akan merasakan hoki yang akan gue bawa. (Atau sebaliknya, mereka hoki gak akan merasakan rugi yang gue bawa?)

Gue jadi merasa kolonel Sanders dari KFC yang resep ayamnya ditolak sampe 1009 kali itu sangat... gabut. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menerima penolakan. Asumsinya dia ditolak sekali sehari, berarti dia menghabiskan waktu sekitar 2 setengah tahun untuk ditolak orang. Gabut maksimal.

Paling enggak sekarang udah ada satu yang hampir fix. Tinggal meeting sama manager dan owner-nya di bulan April. Well, wish me luck.

Jadi gimana, Pak?
Penulisjournal.

17.3.15

writing the ordinary

Peringatan: ini akan menjadi salah satu post yang cukup wasting time untuk dibaca. (Akan membuang waktu penting sekitar 3-4 menit dalam hidup anda.)

Jadi kalo lu masih lanjut baca tulisan ini sekarang, berarti lu termasuk mereka yang gabut dan gak tau mau ngapain, atau mereka yang penasaran banget sama hidup gue yang gak penting-penting amat. (Tapi gue rasa lu pasti termasuk yang pertama sih...)

Pokoknya jangan salahin gue karena emang post ini gak penting... dan kalo emang uda terlanjur mau baca, yaudah baca aja.

Jenis postingan writing the ordinary adalah jenis post lama yang sering gue buat dulu sewaktu masa-masa labil SMP. Postingan gak bertopik utama, isinya cuma random ordinary life tentang hidup gue aja.

Tepat kemarin, gue baru menyelesaikan semua ujian sekolah yang sempet membuat pagi hari gue diisi dengan rasa ngantuk tapi deg-degan.

Pada suatu pagi sebelum berangkat ke sekolah, gue sedang bermeditasi santai di WC sambil buka Instagram, tiba-tiba suasana WC menjadi agak sedih, karena gue melihat sebuah foto bertuliskan, '1 bulan lagi meninggalkan masa abu-abu.'

Pas baca itu, rasanya gue sedih banget.

Entah kenapa, gue merasa akan kehilangan masa-masa itu. Masa-masa ngatain guru pas lagi belajar, liatin gebetan, ijin ke toilet yang tujuannya bukan buat buang air tapi malah buang waktu, tidur di kelas, bolos pelajaran buat ke kantin... Sedih banget.

---

Lalu sekitar dari 1 minggu yang lalu, gue sudah cukup nekat bawa mobil ke sekolah, sukses sih... tapi parkir gue masih belum layak untuk diapresiasi.

---

Masalah hati gue sudah terhapuskan, gue gak punya perasaan lebih pada manusia lain apapun sekarang ini.

---

Ada hal yang masih harus gue tunggu, dan gue harap semua akan berjalan dengan baik.

---

Okay, it's long enough to be considered as a post, and also a note to myself.

Written,
Penulisjournal.

16.3.15

cewek dan fitting room

Cewek dan fitting room adalah dua hal yang kalo berinteraksi akan menimbulkan reaksi yang sangat membosankan.

Jadi pada suatu ketika... gue nemenin seorang cewek belanja baju.

Sebelum masuk ke cerita, ketika cowok mau belanja baju atau apapun itu, cowok akan fokus pada sekitar 5-6 calon baju yang mungkin akan dia beli, dan setiap detik jumlah bajunya akan terus berkurang disesuaikan dengan isi dompet yang sedang dia pegang.

Sementara cewek akan berpindah dari satu baju ke baju yang lain, dan bahkan akan tetap juga melihat baju-baju yang sangat gak berpotensi untuk dibeli.

Hal paling mengerikan saat nemenin belanja baju adalah ketika dia mulai masuk fitting room...

Saat dia masuk ke fitting room, dia akan menghilang ke dalam sebuah tempat sejenis lubang hitam dalam waktu yang sangaaaaat lama, dan gak ada hal yang bisa lu lakukan cuma kalo gak diem, duduk, yah paling bengong.

Hal paling mengerikan selanjutnya adalah ketika lu sadar waktu seorang cewek balik dari fitting room, dia gak pegang baju apa-apa.

Buat yang belum ngeh, simpelnya.

Harus. Nunggu. Lebih. Lama. Lagi.

...

Surga adalah ketika dia bilang, 'Udah nih.' Sambil pegang-pegang baju pake senyum seneng.

Momen yang gue rasakan ketika dia bilang itu mirip sama ketika lu lagi bengong tiba-tiba ada yang ngasih martabak Nutella. Pokoknya kombinasi seneng, lega, sama bahagia.

Kesimpulan dari perjalanan gue hari itu, jangan pernah dateng ke toko baju yang gak punya sofa buat nunggu. Percaya deh, tanpa sofa, nemenin cewek secakep apapun, rasanya tetep kayak neraka.

Jadi udah belom,
Penulisjournal.

23.2.15

Review match-making app, Tinder.

Berhubung jomblo, temen gue memperkenalkan gue dengan aplikasi di hp bernama Tinder.


Tinder adalah sebuah aplikasi pencari jodoh yang menunjukkan foto cewek-cewek jomblo yang juga pake Tinder, dan yang berada di radius sekitar 1-100 km dari kita.

Terus cara pakenya simpel banget. Kalo gak suka fotonya, swipe ke kiri. Kalo suka fotonya, swipe ke kanan. Intinya supaya dipilih, kita harus memasang foto sebagus mungkin supaya pas dilihat gak langsung di swipe ke kiri.

Tapi... orang-orang memang selalu unik dan tidak terduga.


Jadi pas gue make app ini, selalu aja ada foto-foto yang absurd dan membuat gue pengen komenin. Jadi gue screenshot, dan here we go.

Cowok manapun gak akan berani like foto ini... Kalian tahu alasannya.

Liat fotonya musti muter-muterin hp. Belum kenal aja udah ngerepotin.


Terus kalo gini siapa yang bakalan like...

Contoh wanita karir yang sangat sibuk ketemu jodoh in-person. iPad aja sampe 2.

Why... just why.

Bahkan sulit untuk menentukan dia cowok atau cewek.

Orang ini perlu membedakan antara Tinder dengan Instagram.

Meskipun cakep. Gue gak mau pacaran sama ikan.



Sejauh ini sih, gue masih belum menemukan match yang tepat.


Ralat. Sejauh ini, gue masih belum menemukan match sama sekali.

Ya, gue juga gak berharap lebih sih sama app kayak gini, karena jodoh itu kan seharusnya dilihat dari hati dan gak cuma fisik.

...

Tapi kalo ada yang cakep boleh juga sih,
Penulisjournal.

3.2.15

RT memang sudah gak ada

Udah lama aja gue ngerasa gak pernah nulis post di saat lagi niat. Biasanya post selalu gue ketik, save, masuk ke draft 2 hari, revisi, baru di post.

Untuk post kali ini mungkin gak kayak gitu, gue akan ketik tanpa revisi sama sekali.

Jadi di saat ini banyak hal yang lagi disibukkan oleh gue, seperti contohnya masalah KTP.

Gue kemarin ini baru berumur 17, gue akhirnya setelah menunggu lama bisa dikasih nyetir juga.

YEAAAAAAY!!!

Tapi. (Ya, ada tapinya...)

Syarat sebelum gue nyetir dari bokap adalah gue harus punya SIM, dan buat bikin SIM, gue musti punya KTP. Jadi balik lagi ke masalah buat KTP... (Gue males membuat alur yang rapi jadi agak mengulang gak apa-apa deh ya.)

Untuk membuat KTP, ternyata gue harus minta surat ijin terlebih dahulu ke RT, setelah dapet alamat RT dari hasil nanya satpam rumah dan bokap, gue pergi ke alamat yang dikasih.

Di malam hari, gue berdiri sendirian di depan sebuah rumah yang setengah ancur gara-gara renovasi, sambil megangin selembar kertas alamat.

Ya intinya RT gue pindah rumah, dan gak ada yang tahu dia kemana. Seolah dia hilang diculik alien. (Apa mungkin alien beneran ada?)

Setelah itu gue pulang ke rumah, gue merasa harapan gue hilang...

Tapi tiba-tiba bokap masuk ke kamar gue dan bilang,

'RT memang sudah gak ada... tapi kamu bisa kok buat langsung ke RW.'

Percakapan teraneh sama bokap di malam itu seolah-olah si RT adalah salah satu anggota keluarga yang harus gue sedihkan. (Ya intinya sih harapan gue bikin KTP gak jadi hilang karena kemunculan RW yang baik hati.)

Okay sebenernya post kali ini cuma dibuat karena gue lagi mau refreshing (kabur) dari tugas mengarang yang membosankan, gue seharusnya kelar jam 8 dan sekarang udah mau jam 11...

Ahirnya legal bro,
penulisjournal.

21.1.15

Mosi kita hari ini.

Cerita perjalanan gue di dunia debat diawali dengan pergi bertiga bersama temen gue, latihan di sebuah restoran selama 3 jam sama seorang alumni lomba debat yang secara fisik beda tipis sama beruang coklat yang ada di gunung Amerika, tapi suaranya melambai halus kayak cewek.

Dari awal gue gak begitu yakin kalo si beruang gendut bernada banci ini bisa ajarin gue debat, tapi semakin banyak kata yang keluar dari mulut dia, semakin juga gue respect sama dia. (Kalo gue homo mungkin gue bakal tertarik sama dia.)

Ekspektasi gue mengenai debat berubah drastis. Debat ternyata gak cuma harus bagusin pemilihan kata dan be as persuasive as you can, tapi debat yang sebenarnya adalah debat informasi, dan pengetahuan. Kita harus riset, tau banyak hal, dan up to date sama masalah sosial yang ada sekarang ini.

Buat seseorang yang awam, mungkin nganggep dengan asal ngomong dan ngotot bisa bikin orang menang di lomba debat. Tapi simpelnya menurut gue, semakin gede seseorang asal ngomong dan ngebacot, semakin seseorang itu kelihatan bego.

Gak kayak cerita peserta-peserta debat lainnya yang latihan berpuluh kali atau ikut ekskul debat di sekolahnya, jumlah latihan gue cuma 2 kali dan itupun 2 hari sebelum lombanya dimulai. Meskipun begitu, gue gak merasa less pede sedikit pun, mungkin karena gue suka challenge.

(Gaklah sebenernya gue grogi setengah mati.)

Anyway, hari lomba gue dimulai. Komposisi peserta debat itu ada 3, first speaker, second speaker, dan third speaker. Meskipun gak begitu kenal sama first speaker gue, disini dia berperan jadi senior debat yang (emang harusnya) paling pro kalo soal ngomong. Jadi wajar aja sih kalo dia bisa ngomong sampe batas waktu maksimal.

Second speaker gue to be honest, gak begitu jago pas ngomong. Tapi to be honest lagi dan no homo, dia cukup ganteng. Gue terkadang cuma berharap pas dia maju, juri cewek gak bisa konsen dengerin dia ngomong, malah fokus ke muka dia, terus akhirnya secara random ngasih nilai tinggi.

Gue sebagai third speaker yang masih pemula gak bisa berkontribusi banyak saat itu. Momen pas maju, gue pas ngeliat ke arah lawan, gue merasa kayak dibenci banget. Pas gue liat ke arah temen gue, mereka kayak selalu masang muka 'ngomong-lu-masih-kurang-asu.'

Tapi gimana pun pada akhirnya, dengan komposisi tim yang absurd ini, kita bisa meraih juara... harapan 1.

Buat gue sendiri, debat mengubah cara pikir gue menjadi lebih logis dan rajin, membuat gue melihat sesuatu dari sudut pandang yang terkadang gak terpikirkan orang lain, intinya gue gak nyesel sama sekali tau tentang debat, dan malah gue nyesel udah gak bisa debat lagi.

Sekian argumen dari saya, terimakasih.
penulisjournal.


thanks.

-post singkat untuk mengingat lomba debat pertama di hidup gue. post ini gue kasih untuk sahabat debat sinin dan levi.

16.1.15

trip to the jungle.

Jadi untuk mengakhiri tahun 2014 ini, gue bersama 4 orang teman gue memutuskan untuk pergi ke Jungle Land, Sentul.

Bangun dan berangkat jam 7 pagi, padahal baru tidur jam 3 pagi. Hal ini disebabkan 2 dari temen gue nginep di rumah gue, dan seperti nginep-nginep pada umumnya, berisik. Gue gak bisa tidur. Mereka gak kasih gue tidur.

Setelah jemput beberapa temen sisanya, kita mengambil jalan tol, ditemani waze, pergi ke Sentul.

Sampe disana, kita agak menyesal karena gak melakukan riset terlebih dahulu, harga tiket masuk kita hari itu 130k, itu adalah harga promo pake BCA, sementara ada promosi dari Hydro Coco yang harganya jauh lebih pengertian...

Marketing sialan.
Setelah beli tiket, kita foto di depan Jungle Land, terus masuk ke bagian dalam Jungle Land.

Pokoknya gue yang paling ganteng.

Seperti anak-anak lain pada umumnya.
 To be honest, wahana disana gak sebanyak di Dufan, tapi cukup buat bikin gue muntah 2 kali disini.

Gak nyangka gue sanggup naik ini.

Gak serem.

Gue teriak naik ini....

Look at our happy faces :)

 
So long, Jungle Land.

penulisjournal.

5.12.14

History

It started in 2011. SMP 3. 13 tahun.

Gue, bocah alay, gendut, awkward, dan suka curhat. Berhubung curhatan gue banyak kegajean dan gak begitu menarik, gue memutuskan buat menjadikan hasil tugas komputer gue (baca: blog) buat dijadikan journal sehari-hari dan tempat curhat.

Buat gue saat itu, blog ini udah kayak tempat curhat disaat gue susah cerita ke orang-orang, lalu gue berpikir mungkin juga blog ini bakal jadi jurnal harian gue (not a diary) biar gue bisa terus mengingat, entah masa kealayan, kebodohan, kebinatangan, ataupun keautisan gue dalam hidup.

The name was Dabubadah. Nama blog yang gaje, seolah mencerminkan penulisnya yang (saat itu) gaje juga.

Previous layout

Tiap hari gue selalu menyempatkan diri buat nulis post. Buka laptop, ngetik ngasal, nulis mulu, nulis lagi, nulis terus, akhirnya sampai di satu titik. Pertengahan 2012, gue mulai calon vakum nulis. Laziness attacks.

Lalu, gak tau kesambet apa. Gue mulai rajin lagi di akhir tahun, dan di pertengahan 2013, gue mulai calon vakum lagi. Kali ini karena gue lagi rajin.

2013 adalah tahun dimana gue lagi rajin belajar sampe mau berhenti nulis karena pengen masuk penjurusan IPA di kelas 11, dan gue si labil, pada akhirnya milih IPS sebagai major gue. Lalu di tahun ini juga, gue mengganti 'Dabubadah' jadi 'Bukan Diary Tapi Journal.'

Sekarang gue di 2014, gue gak mau menjadi calon vakum nulis lagi, karena gue sekarang merasa gue akan terus menetap jadi seorang penulisjournal.


Full-stop,
penulisjournal.

30.11.14

Bom Air






22.11.2014 was a great saturday. love it.

great friends, great memories.
penulisjournal.

19.11.14

Being older

Gue mulai membenci jadi lebih gede. Bukan secara fisik, tapi secara mental.

Well, gue gak bilang gue udah bener-bener gede, bahkan umur gue aja belum menyentuh legal age. Tapi, gue merasa kayak gini. "As you grow older, your problems will also grow older."

(Ya, gue tau inggrisnya maksa banget.)

Anyway, maksud gue adalah masalah-masalah yang terjadi dalam hidup gue udah mulai membesar dalam skala yang lebih rumit dan sulit untuk ditangani. Masalah yang terjadi itu seolah kayak jadi gabungan dari evolusi dan adaptasi ke kehidupan gue.

Example:

a) Waktu gue SMP masalahnya adalah gue gak punya temen banyak. Sekarang masalahnya, temen udah banyak tapi yang fake juga banyak.

b) Dulu mau deketin cewe gak ada duit. Sekarang mau deketin cewe harus punya mobil. (Yep, still not legal enough to drive one.)

---

Dari sini gue bisa ngambil kesimpulan kalo hampir seluruh hal, even if gue udah ngelakuin sebaik gue dengan effort semaksimal mungkin, bakal selalu muncul hal-hal yang gak terduga dan lebih sulit.

Being older membuat gue jadi harus lebih sibuk dan lebih mau mikir lagi what will gue lakukan besok, 1 tahun kedepan, ataupun cuma 5 menit lagi mau dan harus ngapain.

Being older membuat gue sekarang memiliki standar dalam jokes-jokes, jadi kalo emang gak gitu lucu mungkin gue gak bakal ketawa, (dan bakal aneh banget kalo gue ketawa padahal gak lucu, gue bisa dikira kenapa-kenapa.) terlalu gede membuat gue merasa bosen dengan hidup karena gue udah mengerti banyak hal.

Lalu, hal-hal kayak gini membuat gue merasa actually pengen balik ke masa gue masih bego dan polos, less knowledge, less smarter, less juga tentang sesuatu yang bisa bikin pusing kepala dan hati. (Bukan soal pelajaran sekolah, tapi soal kamu.)

2 months before legal age,
penulisjournal.

13.11.14

Not-so-gabut lagi.

Blog ini lupa di-update karena belakangan ini gue lagi menemukan banyak hal yang bisa mengurangi kegabutan dalam hidup yang beberapa saat ini datar-datar aja.

Di akhir bulan Oktober, gue kembali mengikuti kompetisi debat inggris mewakili sekolah gue dan, Well. Gue. Kalah.

Gue kali ini emang mengaku kalah sih. Karena emang gak memungkinan buat gue menang dengan otak yang biasa aja, dikombinasikan dengan teammates yang tingkat otaknya setara atau bahkan gak beda jauh beda sama ikan koki.

Another thing yang mengurangi kegabutan hidup gue adalah gue untuk pertama kali dalam 3 tahun gue di SMA, gue jadi panitia buat Cup sekolah gue.

Meskipun gue sebenernya tetep gabut selama menjadi panit, at least gue udah bisa kenalan sama beberapa anak kelas 10 dan 11 di sekolah gue. Ya kalo dipikir lagi, lumayanlah bisa memperbanyak koneksi gitu.

Lalu, setelah gue vakum 2 bulan dari tonjok-tonjok punching bag. Gue re-muaythai lagi sama temen-temen baru di tempat yang baru juga, namanya Sparta.

Latihan di tempat baru bikin mood gue meningkat, sekaligus karena latihan sama temen-temen baru yang masih bener-bener buta soal tonjok-menonjok. Gue yang gak begitu jago berasa sedikit pede pas nendang-nendang. Sehingga motivasi gue buat bikin perut six-pack muncul lagi.

Less gabut,
penulisjournal.

26.9.14

Ngamen Elit

Di suatu sore, gue dan temen-temen gue berkumpul untuk ngamen.

Tujuan dari ngamen ini dibagi jadi 3:

1. Membantu cari dana buat acara sekolah
2. Nambah uang jajan
3. Berharap direkrut secara tiba-tiba sama tim Indonesia Mencari Bakat yang lagi menyamar nyari orang

Perencanaan kita buat dengan smooth, baik dari lagu, alat musik, lirik dan chordnya, kita siapkan dengan baik dan nyaris sempurna. Sampai akhirnya kita yakin dan berani dengan semangat yang kuat meskipun muka kecapekan karena abis pulang sekolah... Kita sepakat jam 7 malam kita ke salah satu apartemen di daerah Jakarta Utara buat ngamen disana.

Dan seperti biasa, ada macet.
Dan seperti biasa, susah cari parkir.
Dan seperti biasa, NGARET.

Jam setengah 8, akhirnya kita dengan sukses mendarat ke apartemen. Banyak orang-orang lagi pada makan di bagian food court, dan kita dengan rasa malu tapi muka dibuat senormal mungkin berjalan ke arah tengah food court. Dengan awkward kita minta ijin ke om-om yang lagi dengan semangatnya nyanyi lagu Mandarin di tengah-tengah food court itu, dan kita dikasih.


Di saat semua sudah ready layaknya mau konser tunggal. Temen gue dengan pedenya mengambil mic bekas karaoke om Mandarin, lalu setelah beberapa saat, gue baru sadar kalo ternyata suara temen gue itu... Jelek banget.


Fales. Bikin ilfil cewek (dan cowok.)

Tapi, ending dari cerita ini cukup memuaskan kok. Gue dapet banyak uang yang bisa disumbangkan buat acara sekolah, dan sebagian kecil disumbangkan pada kantong kami masing-masing...


Strum,
penulisjournal.

11.9.14

september; quick update

Update mengenai kehidupan gue di sekolah.

---

Hidup gue akhir-akhir ini cukup baik dan enjoyable.

Buat scores gue di sekolah, gue cukup bangga gue bisa dapet nilai-nilai bagus dan sejauh ini belum ada nilai yang berada dibawah standar minimum.

(Layaknya setiap kali gue nonton iklan, selalu muncul kabar gembira dari ekstrak kulit manggis. Jadi setiap kali guru gue bagi nilai, selalu muncul kabar gembira dari kertas hasil ulangan gue.)

Banyak hal-hal lucu yang terjadi di sekolah, banyak temen-temen baru yang unik dan jadi objek buat gue untuk dipelajari dan diteliti supaya bisa jadi temen-temen yang lebih dekat.

Untuk masalah yang gue rasakan paling cuma berupa minor problem. Yaitu penggalauan khas anak SMA 3 yakni bingung mau milih kuliah dimana.

Gue inget dulu pernah nulis di blog ini pengen ngambil IPA, dan ambil teknik elektro.
Tapi semua sekarang berubah setelah 3 tahun. Gue ambil IPS, dan ambil marketing. (So different.)
 
Anyways, sekarang hal yang paling gue pusingkan adalah Universitasnya.

Berasa anak kuliahan

When I choose salah satu univ, ada yang bilang, "Ih jelek."
Waktu gue ganti pilih ke yang lain, temen gue bilang, "Lu yakin mau disitu?"

Belakangan gue baru tau ternyata temen gue milih Univ itu juga, jadi dia gak mau kalo dia dan gue berada di Universitas yang sama...

Gue berharap dimanapun gue berada nanti. Universitas apapun yang gue pilih. Gue bisa sukses.

Calon MABA,
penulisjournal.

7.9.14

terus berjalan dan berubah

Sabtu lalu, gue baru aja melihat 4 orang anak SMP kelas 3 memasuki pintu mall sambil tertawa kencang seolah dunia hanya milik mereka.

Di saat yang bersamaan, gue bergumam dalam hati, 'Gila, gayanya bocah abis.'

Dan gue tiba-tiba flashback kapan terakhir kali gue terlihat seperti itu.
Yang terjadi setelah itu adalah... gue tersadar kalo sekarang gue udah tua di sekolah dan mau lulus.

---

Kalo ditanya apa aja yang gue pelajari selama 3 tahun SMA, gue akan sulit sekali menjawab pertanyaan ini dan mungkin hanya akan dengan simpel berkata, 'Banyak.'

Terlalu banyak hal yang terjadi dan berubah selama gue 3 tahun mengenakan seragam putih abu-abu. Dari perubahan fisik, bentuk rambut, gaya menulis, rasa suka, sampai ke pola pikir.

Semua perubahan yang terjadi dalam hidup gue dipengaruhi oleh banyak hal. Dari temen-temen gue, guru gue, ataupun buku-buku yang gue baca. Dan juga, semua perubahan yang terjadi dalam hidup gue pelan-pelan mengubah dan membentuk gue menjadi orang yang lebih baru.

Sebuah perubahan yang termasuk salah satu yang paling mempengaruhi hidup gue dan yang akan terus tersimpan dalam arsip kecil di otak gue adalah jurusan yang gue pilih di SMA.

Keberadaan gue di IPS awalnya gue rasakan sebagai sebuah kesalahan. Gue gak suka environment berisik dan majority dimana orang-orang pada umumnya malas belajar.

Di IPS akhirnya pelan-pelan gue mulai menjadi malas juga, dan POV gue yang dulunya 'Harus selalu rajin', sekarang bisa terkadang berganti jadi 'Sekarang males aja deh.'

IPS juga memaksa gua secara perlahan untuk menghilangkan rasa suka gue di kelas 10 pada seorang cewek IPA. Dan lagi, IPS juga memaksa gue untuk mencari dan akhirnya menemukan seorang cewek lain di IPS, meskipun berakhir dengan bittersweet yang selalu sakit untuk dikenang.

Akhirnya, karena di IPS gue memiliki banyak waktu luang, gue bisa sering jalan bareng sama temen-temen gue. Gue sekarang jadi lebih suka ngobrol dan lebih suka jalan dibanding gue yang dulunya pendiem dan cinta banget sama rumah.

Sebuah stereotype di otak gue bahwa masuk IPS adalah kesalahan dalam hidup gue akhirnya berubah jadi sebuah keberuntungan buat gue. Gue basically got all the things yang gue mau disini.

Waktu ultah gue dirayain di kelas

Makan jam 2 pagi bareng temen IPS
Mengutip sedikit kalimat dari penulis favorit gue, 'Semua ini terjadi begitu cepat, dalam tempo yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya.'

Ini adalah sebuah post yang dibuat karena 7 bulan lagi udah lulus. Terkesan masih lama, tapi gue yakin suatu hari nanti gue akan kembali mencari dan membaca post ini, entah disaat gue udah kuliah ataupun kerja.

IPS,
Penulisjournal.

14.7.14

What to expect, what not to expect

-14.07.2014; 6.01 am

Gue kembali melakukan aktivitas berangkat sekolah setelah melewati liburan selama satu bulan.

-14.07.2014; 6.39 am

Gue sekarang lagi duduk di ruang UKS sambil minum teh manis yang hangat, sambil ngeliatin cewek cakep yang duduk dan juga sakit di UKS.

Hal ini terjadi dikarenakan oleh penglihatan gue yang pada saat upacara mendadak ngeblur dan agak gelap, lalu kemampuan telinga gue untuk mendengar agak hilang.

-14.07.2014; 7.50 am

Gue membaca kertas daftar anggota untuk kelas gue tahun ini, dan dari sini topik utama tulisan ini dimulai.

---

Kelas 12. Tahun terakhir gue buat memakai baju putih abu-abu. Sudah selayaknya gue berharap mendapat kelas yang baik dan seru. Tapi, ya kehidupan itu emang gak sesuai ekspektasi sih.

Ekspektasi berubah 180 derajat has just happened to me.

Penjelasan kondisi kelas gue yang paling mudah adalah sebuah kelas yang terbagi menjadi kubu-kubu yang udah kelihatan banget. Ada kubu yang terdiri dari cowok-cowok iseng dan suka membully, kubu cewek-cewek kuper tapi rajin, kubu cewek yang gaul, dan gue sendiri kubu cowok yang tenang dengan gaya yang biasa aja.

Dilihat dari kondisi kelas gue yang sangat absurd dan memusingkan gue akhirnya memutuskan untuk membuat list what to expect, what not to expect.


What to expect:
1. Gak akan muncul yang namanya solidaritas di kelas gue.
2. Ranking gue dikelas akan cukup baik karena saingannya gak gitu susah.
3. There is a possibility buat gue getting bullied by one of those guys. When that happens, idgaf.
4. Gue bakal jarang update blog lagi karena udah kelas 12 dan sibuk merhatiin nilai.
---
What not to expect:

1. Bisa bergaul dengan seluruh anggota kelas dengan baik? No way. Gue gak mungkin bisa pleased everyone.
Anyway, diatas mungkin bakal jadi final update gue tentang sekolah untuk bulan ini. Kalo gue sempet mungkin gue akan update 1-2 lagi di bulan depan.

Vakum,
penulisjournal.

nz

di post kali ini, mungkin lebih pengen cerita soal pindahnya gue ke NZ ya. latar belakang: gue nyaman di Indo, walau kerja jadi freelance, h...