Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan

6.8.15

Iseng.

Pernah gak sih pas lagi makan madu, lu kepikir... siapa orang yang pertama kali menemukan madu?

Sebelum ditemukannya madu, tentunya yang orang-orang tahu tentang lebah saat itu, lebah hanya binatang kecil berwarna kuning, bersuara bzz dan kalo lu deketin entah sengaja atau enggak, lu bakal disengat.

Tapi bayangin, ada satu cowok yang 'iseng banget', (asumsi aja cowok, karena probabilitas orang iseng lebih tinggi cowok dibandingkan cewek), dia datengin rumah para lebah itu, masukin jari dia ke lubangnya, dikorek-korek, dan isinya dijilat. (Gue tau ini emang agak ambigu... If you know what I mean.)

Kepikir gak sih, apa gitu motivasi dia tiba-tiba datengin lubang para lebah itu? apa karena dia gak punya lubang buat dimainin malem itu? atau karena dia emang gak punya lubang? (baca: karena dia cowok.)

Dan akhirnya dia jadi penemu madu.

Lanjut, pertanyaan kedua masih mirip sama pertanyaan pertama.

Pernah gak sih pas pagi-pagi lagi minum susu, lu kepikir... siapa yang pertama kali nemuin susu sapi?

Ada cowok lagi jalan di padang rumput, dia lagi haus banget dan gak punya air untuk diminum, lalu dia lihat ada sapi betina liar, lagi menyusui anak sapinya, terus karena udah terpaksa banget, dan haus yang udah kronis, dia dengan khilaf... ikutan.

Dan akhirnya dia jadi penemu susu sapi.

Bayangin, seberapa isengnya 2 orang diatas, yang satu iseng masukin jari ke lubang, satu lagi iseng minum dari tete sapi. (Dari sini gue positif banget, kedua penemunya pasti cowok.)

Anyway, moral of the story adalah keisengan akan membawa lu dalam menemukan sesuatu yang baru dalam hidup lu.

Job gue sendiri untuk sekarang ini, berawal dari keisengan gue. (Santai, iseng gue gak seabsurd cerita diatas). Gue gak kebayang kalo malam itu gue gak 'iseng' pergi bareng temen-temen gue, dan 'iseng' nyobain sesuatu bernama Shisha, dan akhirnya make a business out of it.

Fyi, gue cobain Shisha pertama gue di Sahara. Shisha nomor dua di daerah PIK. Kenapa nomor dua? Karena sejak gue buka Juni lalu, nomor satunya udah pindah jadi ke tempat gue B)

"Chill out, stay high."
Penulisjournal.

15.7.15

gerbang baru

Berjalan di depan pintu gerbang sekolah, sambil mengenggam tangan seorang wanita. Di tengah keramaian, bel pun berbunyi. Lalu dengan berat hati, gue perlahan melepas genggaman tangan itu, dan
berjalan lurus, sedikit demi sedikit, namun akhirnya gue merasa gak kuat, gue dengan kencang... nangis.

Gue yakin kalau tidak dijelaskan lebih lanjut, cerita ini akan terkesan sangat absurd. Jadi ini adalah awal dari cerita ketika gue mengingat masa TK gue.

Di saat TK dulu, gue akan selalu digandeng nyokap, dan berhenti sejenak di depan pintu pembatas masuk. Gue selalu merasa, ketika gue melewati pintu gerbang berwarna silver ini, gue seolah akan dipaksa menjadi dewasa. Selalu ada rasa takut dalam diri gue, lalu nyokap akan selalu membujuk gue dan gue pun berjalan masuk, dan gue juga selalu nangis dulu sebelum masuk kelas.

Ketika gue berpikir lagi, kejadian itu terjadi 14 tahun yang lalu. Bahkan gue sekarang udah gak perlu masuk lagi ke pintu gerbang yang selalu gue lewati.

Gue memasuki pintu gerbang yang baru, Universitas. Jujur, gue kembali merasa takut.

Dibandingkan saat gue masih kecil, ketakutan gue adalah karena gue harus pisah dari nyokap, ketemu sama temen-temen yang ngeselin, dipaksa makan nasi pake kuah wortel yang sangat gak gue suka, dan ikut pelajaran olahraga di mana gue gak bisa olahraga.

Tentunya gue tahu, ketika masuk kuliah, gak ada satupun dari hal-hal diatas yang akan menjadi ketakutan gue sekarang. Nyokap emang gak nganter gue lagi semenjak SD kelas 6, gue selalu bermain hanya di temen-temen yang gue anggep enak, gue makan apapun yang gue suka, dan... gue emang tetep gak bisa olahraga jadi yaudah.

Gue hanya berharap, gue bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru yang akan gue hadapi ini. Gue gak meminta agar gak ada hal buruk yang terjadi, tapi kalau nanti ada, semoga gue bisa mengatasinya dan hal buruk itu bisa jadi topik yang seru untuk posting blog selanjutnya. (Karena gue sekarang bener-bener kehabisan ide...)

I have no idea,
Penulisjournal.

18.5.15

akibat melihat tembok putih

Gue sekarang merasa bego banget karena selalu pengen dianggap dewasa sama orang-orang, dan menjadi dewasa, di umur gue yang belum dewasa.

Gue selalu punya mindset visioner yang selalu menganggap diri gue adalah orang yang sudah dewasa, semua di sekitar gue adalah bocah, dan masalah-masalah yang dihadapin terlalu anak-anak banget. Gue selalu prioritize masalah-masalah yang lebih berat dan mengesampingkan masalah yang gue anggap minor kayak masalah percintaan, gosip-gosip antartemen yang lagi happening, kayak itu gak cukup urgent untuk dipedulikan.

Then it hits me. Sebuah pemikiran yang cukup dalam setelah ngelihatin tembok putih di kamar tidur selama 7 menit.

Pertanyaan pertama adalah kenapa? kenapa gue selalu mengesampingkan masalah minor itu? masalah sebenarnya tetap masalah, terlepas itu besar atau kecil, all I thought adalah it's not quite urgent jadi bisa di solve nanti.

Banyak orang-orang menyesali hidupnya karena simply mereka sama kayak gue, memprioritaskan yang lebih penting atau besar, melupakan yang kecil, sampai akhirnya sadar masalah kecil itu lama-lama jadi besar. Atau mungkin juga mereka mengejar sesuatu yang disebut 'dewasa', sampai merelakan masa-masa 'belum dewasa' nya.

Ibarat puntung rokok yang dibuang sembarangan di hutan, masalah kecilnya adalah seorang penebang terlalu malas untuk mematikan rokok itu, dibuang sembarangan, lama-lama api kecil dari rokok membakar seluruh hutan, terus penebang akan menyesal. Dari penebang yang pengen dapet kenaikan gaji, kerja dengan semangat supaya semakin banyak pohon yang bisa ditebang, dan dijual. Malah akhirnya, semua yang diinginkan in the end gak tercapai.

Simpelnya, kalo gue yang masih umur 17 tahun ini terus-terusan mikirin problem umur 25 tahun. Nanti kalo gue udah 25 tahun, gue mau mikirin apaan? masa gue mau balik mikirin masalah di umur 17 tahun? Masalah nyari pacar yang udah terlalu telat. Temen-temen gue udah pada ngasi undangan nikah, dan gue masih nyari pacar.

All I need to do adalah menyesuaikan problem yang ada pada diri gue dengan usia yang sedang gue jalani.  

"It will be best to let everything shows up on it's own way, and on it's own time."

Kalo gue masih muda, gue harus berpikir muda, dan gak perlu berpikir 'terlalu' dewasa, bukan karena gue masa bodoh dengan kedewasaan. Tapi karena gue gak mau nanti ketika gue dewasa, gue menyesal kenapa dulu gue gak menghidupi dunia remaja gue selagi gue bisa.

Spent 7 minutes thinking, 37 minutes putting it on this post.
Penulisjournal.

10.2.15

saya dan kamu.

di saat saya terbangun di pagi hari,
kamu bukan lagi orang pertama yang ada di pikiran ini.
seperti dedaunan ringan yang terbawa angin,
perlahan kamu pindah, dan hilang dari hati ini.

lalu sejak saat itu, saya terus berjalan,
melewati sebuah jalan hitam pekat penuh kesendirian.
dan kamu pun datang dan menawarkan cahaya,
tetapi saya menolak dan memilih bertahan dalam gelap.

saya dan kamu memang aneh dan gak sama.
bila diteruskan, kita berdua pasti tahu apa yang menunggu di akhir.
tapi, dengan hati jujur saya pernah suka kamu.
mungkin pernah, dalam jangka waktu yang cukup lama.

Penulisjournal.

31.1.15

Penutup Januari

Astaga, malem minggu gini hujan... doa para jomblo dikabulkan. (Iya, para jomblo. Salah satunya gue.)

Tapi sekarang udah hujan, gue laper, gue jomblo lagi. Emang nasib.

Anyway disaat random ini gue mendadak kepikiran, kenapa ya ada aja cewe yang bisa keluarin statement, 'Cowok kalo gak brengsek ya homo.'

Yang terpikir di otak gue adalah, 'Terus bokap lo termasuk yang mana?'

Berhubung gue merasa bokapnya gak mungkin homo (karena dia punya anak cewek), berarti bokapnya pasti termasuk yang brengsek. Di saat anaknya bisa keluarin statement itu, berarti dia kemungkinan gara-gara habis putus sama cowok yang brengsek, dan gimana anaknya gak putus sama cowok brengsek, karena itu karma dari bokapnya pas masih muda juga brengsek.

Okay, kegabutan gue sebagai jomblo mendorong gue untuk berpikir sangat aneh untuk sekarang ini.

Dari tadi suara petirnya kenceng banget, kayaknya ini sebagai pertanda semua masalah yang terjadi di Januari ini akan disapu bersih oleh hujan. (Apasih.)

Gak tau kenapa. Awal Januari merupakan momen-momen yang bahagia buat gue, tapi akhir Januari ini gue merasa lelah aja sama semua ini, gue pengen memulai sesuatu yang baru, yang bisa membuat gue hidup dan semangat lagi.

Gue juga mau memulai semuanya lagi sama lu.

Tapi untuk sekarang gak bisa,
penulisjournal.

16.1.15

before i die, i want to.

Post ini dibuat terinspirasi dari ide ke 81 dari link ini, which is menulis hal-hal yang mau gue lakukan sebelum gue koit.

So, here it is. Hal-hal yang mau gue lakukan sebelum gue mokad.


---

- Beliin ortu apapun yang mereka mau.

Emang menurut gue, sudah seharusnya menjadi impian semua anak dimanapun mereka berada buat bahagiain orang tua mereka masing-masing.

Berhubung mereka udah memberikan investasi sampai gue bisa hidup berpuluh-puluh tahun, dan gue gak dibiarkan mokad dalam beberapa hari seperti peliharaan-peliharaan gue pada umumnya, tentunya gue pengen banget bisa balikin itu semua. As soon as possible.

- Pergi sama pacar ke luar negri.

Gak perlu panjang-panjang banget sih. Tapi kayaknya kalo bisa gini, terus foto dan dipamerin ke social media. Rasanya... bakal keren banget.

- Punya Ducati.

Berhubung gue sebenernya lebih prefer naik motor daripada mobil. Kalo gue punya duit berlebih, gue bakal beli Ducati. Meskipun di Jakarta motor gede kayak Ducati gak begitu berguna (karena Jakarta is too fucking macet), tapi keren aja kalo skenarionya kayak gini.

{Reuni SMA setelah 15 tahun}

Temen A, 'Lu bawa mobil apa sekarang?'
Gue, 'Ah, gue mah bawanya motor.'

Pas keluar, tau-tau harga motor gue sama kayak harga mobil dia.  

(Keren banget gak sih...)

*Tapi kalo hujan, rencana ini pasti gagal, dengan memalukan...

- Ngajak anak gue Muay Thai.

Berhubung gue punya ketertarikan di Muay Thai, begitu anak gue udah cukup umur, gue bakal ajak dia buat ikut training bareng gue. Gak peduli dia bisa atau enggak, gak peduli dia sanggup atau enggak. Intinya, gue cuma mau pamer doang ke dia kalo bokapnya adalah seseorang yang gak dengan gampang bisa dijatuhkan. (dan sekaligus adalah seseorang yang bisa gebukin maling yang masuk ke rumah sampe pingsan.)

(Tapi gak berlaku sih kalo malingnya masuk ke rumah bawa senjata.)

---
Nah, kalo gue udah kesampean ngelakuin hal-hal diatas, gue baru nantinya bisa...

Rest In Peace,
penulisjournal.

5.12.14

History

It started in 2011. SMP 3. 13 tahun.

Gue, bocah alay, gendut, awkward, dan suka curhat. Berhubung curhatan gue banyak kegajean dan gak begitu menarik, gue memutuskan buat menjadikan hasil tugas komputer gue (baca: blog) buat dijadikan journal sehari-hari dan tempat curhat.

Buat gue saat itu, blog ini udah kayak tempat curhat disaat gue susah cerita ke orang-orang, lalu gue berpikir mungkin juga blog ini bakal jadi jurnal harian gue (not a diary) biar gue bisa terus mengingat, entah masa kealayan, kebodohan, kebinatangan, ataupun keautisan gue dalam hidup.

The name was Dabubadah. Nama blog yang gaje, seolah mencerminkan penulisnya yang (saat itu) gaje juga.

Previous layout

Tiap hari gue selalu menyempatkan diri buat nulis post. Buka laptop, ngetik ngasal, nulis mulu, nulis lagi, nulis terus, akhirnya sampai di satu titik. Pertengahan 2012, gue mulai calon vakum nulis. Laziness attacks.

Lalu, gak tau kesambet apa. Gue mulai rajin lagi di akhir tahun, dan di pertengahan 2013, gue mulai calon vakum lagi. Kali ini karena gue lagi rajin.

2013 adalah tahun dimana gue lagi rajin belajar sampe mau berhenti nulis karena pengen masuk penjurusan IPA di kelas 11, dan gue si labil, pada akhirnya milih IPS sebagai major gue. Lalu di tahun ini juga, gue mengganti 'Dabubadah' jadi 'Bukan Diary Tapi Journal.'

Sekarang gue di 2014, gue gak mau menjadi calon vakum nulis lagi, karena gue sekarang merasa gue akan terus menetap jadi seorang penulisjournal.


Full-stop,
penulisjournal.

19.11.14

Being older

Gue mulai membenci jadi lebih gede. Bukan secara fisik, tapi secara mental.

Well, gue gak bilang gue udah bener-bener gede, bahkan umur gue aja belum menyentuh legal age. Tapi, gue merasa kayak gini. "As you grow older, your problems will also grow older."

(Ya, gue tau inggrisnya maksa banget.)

Anyway, maksud gue adalah masalah-masalah yang terjadi dalam hidup gue udah mulai membesar dalam skala yang lebih rumit dan sulit untuk ditangani. Masalah yang terjadi itu seolah kayak jadi gabungan dari evolusi dan adaptasi ke kehidupan gue.

Example:

a) Waktu gue SMP masalahnya adalah gue gak punya temen banyak. Sekarang masalahnya, temen udah banyak tapi yang fake juga banyak.

b) Dulu mau deketin cewe gak ada duit. Sekarang mau deketin cewe harus punya mobil. (Yep, still not legal enough to drive one.)

---

Dari sini gue bisa ngambil kesimpulan kalo hampir seluruh hal, even if gue udah ngelakuin sebaik gue dengan effort semaksimal mungkin, bakal selalu muncul hal-hal yang gak terduga dan lebih sulit.

Being older membuat gue jadi harus lebih sibuk dan lebih mau mikir lagi what will gue lakukan besok, 1 tahun kedepan, ataupun cuma 5 menit lagi mau dan harus ngapain.

Being older membuat gue sekarang memiliki standar dalam jokes-jokes, jadi kalo emang gak gitu lucu mungkin gue gak bakal ketawa, (dan bakal aneh banget kalo gue ketawa padahal gak lucu, gue bisa dikira kenapa-kenapa.) terlalu gede membuat gue merasa bosen dengan hidup karena gue udah mengerti banyak hal.

Lalu, hal-hal kayak gini membuat gue merasa actually pengen balik ke masa gue masih bego dan polos, less knowledge, less smarter, less juga tentang sesuatu yang bisa bikin pusing kepala dan hati. (Bukan soal pelajaran sekolah, tapi soal kamu.)

2 months before legal age,
penulisjournal.

11.9.14

september; quick update

Update mengenai kehidupan gue di sekolah.

---

Hidup gue akhir-akhir ini cukup baik dan enjoyable.

Buat scores gue di sekolah, gue cukup bangga gue bisa dapet nilai-nilai bagus dan sejauh ini belum ada nilai yang berada dibawah standar minimum.

(Layaknya setiap kali gue nonton iklan, selalu muncul kabar gembira dari ekstrak kulit manggis. Jadi setiap kali guru gue bagi nilai, selalu muncul kabar gembira dari kertas hasil ulangan gue.)

Banyak hal-hal lucu yang terjadi di sekolah, banyak temen-temen baru yang unik dan jadi objek buat gue untuk dipelajari dan diteliti supaya bisa jadi temen-temen yang lebih dekat.

Untuk masalah yang gue rasakan paling cuma berupa minor problem. Yaitu penggalauan khas anak SMA 3 yakni bingung mau milih kuliah dimana.

Gue inget dulu pernah nulis di blog ini pengen ngambil IPA, dan ambil teknik elektro.
Tapi semua sekarang berubah setelah 3 tahun. Gue ambil IPS, dan ambil marketing. (So different.)
 
Anyways, sekarang hal yang paling gue pusingkan adalah Universitasnya.

Berasa anak kuliahan

When I choose salah satu univ, ada yang bilang, "Ih jelek."
Waktu gue ganti pilih ke yang lain, temen gue bilang, "Lu yakin mau disitu?"

Belakangan gue baru tau ternyata temen gue milih Univ itu juga, jadi dia gak mau kalo dia dan gue berada di Universitas yang sama...

Gue berharap dimanapun gue berada nanti. Universitas apapun yang gue pilih. Gue bisa sukses.

Calon MABA,
penulisjournal.

7.9.14

terus berjalan dan berubah

Sabtu lalu, gue baru aja melihat 4 orang anak SMP kelas 3 memasuki pintu mall sambil tertawa kencang seolah dunia hanya milik mereka.

Di saat yang bersamaan, gue bergumam dalam hati, 'Gila, gayanya bocah abis.'

Dan gue tiba-tiba flashback kapan terakhir kali gue terlihat seperti itu.
Yang terjadi setelah itu adalah... gue tersadar kalo sekarang gue udah tua di sekolah dan mau lulus.

---

Kalo ditanya apa aja yang gue pelajari selama 3 tahun SMA, gue akan sulit sekali menjawab pertanyaan ini dan mungkin hanya akan dengan simpel berkata, 'Banyak.'

Terlalu banyak hal yang terjadi dan berubah selama gue 3 tahun mengenakan seragam putih abu-abu. Dari perubahan fisik, bentuk rambut, gaya menulis, rasa suka, sampai ke pola pikir.

Semua perubahan yang terjadi dalam hidup gue dipengaruhi oleh banyak hal. Dari temen-temen gue, guru gue, ataupun buku-buku yang gue baca. Dan juga, semua perubahan yang terjadi dalam hidup gue pelan-pelan mengubah dan membentuk gue menjadi orang yang lebih baru.

Sebuah perubahan yang termasuk salah satu yang paling mempengaruhi hidup gue dan yang akan terus tersimpan dalam arsip kecil di otak gue adalah jurusan yang gue pilih di SMA.

Keberadaan gue di IPS awalnya gue rasakan sebagai sebuah kesalahan. Gue gak suka environment berisik dan majority dimana orang-orang pada umumnya malas belajar.

Di IPS akhirnya pelan-pelan gue mulai menjadi malas juga, dan POV gue yang dulunya 'Harus selalu rajin', sekarang bisa terkadang berganti jadi 'Sekarang males aja deh.'

IPS juga memaksa gua secara perlahan untuk menghilangkan rasa suka gue di kelas 10 pada seorang cewek IPA. Dan lagi, IPS juga memaksa gue untuk mencari dan akhirnya menemukan seorang cewek lain di IPS, meskipun berakhir dengan bittersweet yang selalu sakit untuk dikenang.

Akhirnya, karena di IPS gue memiliki banyak waktu luang, gue bisa sering jalan bareng sama temen-temen gue. Gue sekarang jadi lebih suka ngobrol dan lebih suka jalan dibanding gue yang dulunya pendiem dan cinta banget sama rumah.

Sebuah stereotype di otak gue bahwa masuk IPS adalah kesalahan dalam hidup gue akhirnya berubah jadi sebuah keberuntungan buat gue. Gue basically got all the things yang gue mau disini.

Waktu ultah gue dirayain di kelas

Makan jam 2 pagi bareng temen IPS
Mengutip sedikit kalimat dari penulis favorit gue, 'Semua ini terjadi begitu cepat, dalam tempo yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya.'

Ini adalah sebuah post yang dibuat karena 7 bulan lagi udah lulus. Terkesan masih lama, tapi gue yakin suatu hari nanti gue akan kembali mencari dan membaca post ini, entah disaat gue udah kuliah ataupun kerja.

IPS,
Penulisjournal.

14.7.14

What to expect, what not to expect

-14.07.2014; 6.01 am

Gue kembali melakukan aktivitas berangkat sekolah setelah melewati liburan selama satu bulan.

-14.07.2014; 6.39 am

Gue sekarang lagi duduk di ruang UKS sambil minum teh manis yang hangat, sambil ngeliatin cewek cakep yang duduk dan juga sakit di UKS.

Hal ini terjadi dikarenakan oleh penglihatan gue yang pada saat upacara mendadak ngeblur dan agak gelap, lalu kemampuan telinga gue untuk mendengar agak hilang.

-14.07.2014; 7.50 am

Gue membaca kertas daftar anggota untuk kelas gue tahun ini, dan dari sini topik utama tulisan ini dimulai.

---

Kelas 12. Tahun terakhir gue buat memakai baju putih abu-abu. Sudah selayaknya gue berharap mendapat kelas yang baik dan seru. Tapi, ya kehidupan itu emang gak sesuai ekspektasi sih.

Ekspektasi berubah 180 derajat has just happened to me.

Penjelasan kondisi kelas gue yang paling mudah adalah sebuah kelas yang terbagi menjadi kubu-kubu yang udah kelihatan banget. Ada kubu yang terdiri dari cowok-cowok iseng dan suka membully, kubu cewek-cewek kuper tapi rajin, kubu cewek yang gaul, dan gue sendiri kubu cowok yang tenang dengan gaya yang biasa aja.

Dilihat dari kondisi kelas gue yang sangat absurd dan memusingkan gue akhirnya memutuskan untuk membuat list what to expect, what not to expect.


What to expect:
1. Gak akan muncul yang namanya solidaritas di kelas gue.
2. Ranking gue dikelas akan cukup baik karena saingannya gak gitu susah.
3. There is a possibility buat gue getting bullied by one of those guys. When that happens, idgaf.
4. Gue bakal jarang update blog lagi karena udah kelas 12 dan sibuk merhatiin nilai.
---
What not to expect:

1. Bisa bergaul dengan seluruh anggota kelas dengan baik? No way. Gue gak mungkin bisa pleased everyone.
Anyway, diatas mungkin bakal jadi final update gue tentang sekolah untuk bulan ini. Kalo gue sempet mungkin gue akan update 1-2 lagi di bulan depan.

Vakum,
penulisjournal.

30.5.14

Different POV.

Kalo faktanya mengatakan cewek itu rumit, maka cowok itu sebenernya gak kalah rumit.

Komposisi satu kalimat cowok kalo lagi ngobrol itu 30% intinya, 70% kata kasar. Terkadang karena kebanyakan pake kata kasar, cowok itu suka lupa sebenernya lagi ngomongin apaan, dan kadang juga pas lagi ngobrol bisa kepancing emosi sendiri.

Misalnya kalo gue bikin kayak formula di bahasa inggris.
"Woi + [kata kasar], gua gak tau + [kata kasar] hari ini ada ulangan [kata kasar]. Cepetan [kata kasar] bantuin gua belajar [kata kasar], [kata kasar] sial banget gua hari ini."

Selain mereka ngobrol dengan kata kasar yang banyak banget, topik obrolan cowok itu gak jauh-jauh dari:

1. Cewek
2. Bola
3. Game Online (DOTA 2, HON, LOL, PB)
4. Mobil

Selain ngomongin soal cewek, gue gak ngerti sama topik lainnya. Kayak gue gak tau dimana letak keseruan nonton bola. Gak tau dimana letak keseruan nontonin 22 cowok (iya cowok lagi, bukan cewek) ngerebutin satu bola (yang kalo di TV gedenya cuma sekitar lima pixel) di lapangan berwarna hijau. And why do guys bahkan rela begadang buat nonton begituan.

Another thing mengenai bola, gue jadi merasa kalo gue pengen ngobrolin bola, gue musti belajar sejarah panjang bola dari tahun 90an. Gue keinget sama seorang temen gue yang ngomong tentang seberapa kerennya goalnya Ronaldinho di tahun 2002. (Pas itu aja gue masih baru umur 4 tahun dan cuma bisa kentut sama gambar)

I do like online games. Tapi gue gak suka sesuatu yang gak begitu bermanfaat buat gue. Duduk depan layar laptop 5 jam yang udah pasti ngerusak mata dan waste my time unnecessarily. Online games really not my thing. (Dan karena gue emang gak gitu jago juga sih, hehehe)

Mobil adalah salah satu hal yang gue gak begitu mengerti juga. Cowok menganggap otomotif itu adalah hobi mereka, mereka suka datengin showroom mobil dan honestly gue gak begitu ngerti perbedaan mobil yang bagus dan yang biasa-biasa aja. Pengetahuan gue tentang mobil itu sesempit ini:

1. Mobil kalo gak manual, pasti matic.
2. Mobil mahal kena pajak barang mewah.
3. Mobil 2 pintu pasti mobil mahal.
4. Knalpot lebih dari satu, lebih kenceng, dan lebih boros bensin.
5. Udah (?)

Dan gue baru menyadari ternyata pengetahuan mobil gue bahkan lebih sempit dari perkiraan gue.

Anyway, itulah cowok, (dan itulah gue)
@dionisiuskevinn

nz

di post kali ini, mungkin lebih pengen cerita soal pindahnya gue ke NZ ya. latar belakang: gue nyaman di Indo, walau kerja jadi freelance, h...