6.8.15

Iseng.

Pernah gak sih pas lagi makan madu, lu kepikir... siapa orang yang pertama kali menemukan madu?

Sebelum ditemukannya madu, tentunya yang orang-orang tahu tentang lebah saat itu, lebah hanya binatang kecil berwarna kuning, bersuara bzz dan kalo lu deketin entah sengaja atau enggak, lu bakal disengat.

Tapi bayangin, ada satu cowok yang 'iseng banget', (asumsi aja cowok, karena probabilitas orang iseng lebih tinggi cowok dibandingkan cewek), dia datengin rumah para lebah itu, masukin jari dia ke lubangnya, dikorek-korek, dan isinya dijilat. (Gue tau ini emang agak ambigu... If you know what I mean.)

Kepikir gak sih, apa gitu motivasi dia tiba-tiba datengin lubang para lebah itu? apa karena dia gak punya lubang buat dimainin malem itu? atau karena dia emang gak punya lubang? (baca: karena dia cowok.)

Dan akhirnya dia jadi penemu madu.

Lanjut, pertanyaan kedua masih mirip sama pertanyaan pertama.

Pernah gak sih pas pagi-pagi lagi minum susu, lu kepikir... siapa yang pertama kali nemuin susu sapi?

Ada cowok lagi jalan di padang rumput, dia lagi haus banget dan gak punya air untuk diminum, lalu dia lihat ada sapi betina liar, lagi menyusui anak sapinya, terus karena udah terpaksa banget, dan haus yang udah kronis, dia dengan khilaf... ikutan.

Dan akhirnya dia jadi penemu susu sapi.

Bayangin, seberapa isengnya 2 orang diatas, yang satu iseng masukin jari ke lubang, satu lagi iseng minum dari tete sapi. (Dari sini gue positif banget, kedua penemunya pasti cowok.)

Anyway, moral of the story adalah keisengan akan membawa lu dalam menemukan sesuatu yang baru dalam hidup lu.

Job gue sendiri untuk sekarang ini, berawal dari keisengan gue. (Santai, iseng gue gak seabsurd cerita diatas). Gue gak kebayang kalo malam itu gue gak 'iseng' pergi bareng temen-temen gue, dan 'iseng' nyobain sesuatu bernama Shisha, dan akhirnya make a business out of it.

Fyi, gue cobain Shisha pertama gue di Sahara. Shisha nomor dua di daerah PIK. Kenapa nomor dua? Karena sejak gue buka Juni lalu, nomor satunya udah pindah jadi ke tempat gue B)

"Chill out, stay high."
Penulisjournal.

30.7.15

Lie

You were funny, girly, lovely
And now, I don't know you at all
Oh, a great big liar, that's how I see you now
Don't talk to me, don't speak of me
Can you stop?

Past memories that we had, just throw it up
Since yesterday, it just build up stress on my head
Tiring, boring, "Hey, what are you talking about?"
Your life? Ha. I don't care what happens to you now

Live your own life, as I live my own.
Why care? Let's cut all this ties, all this shitty drama
I know you got bored, so why continue this?
I can be better off without you, just go away

15.7.15

gerbang baru

Berjalan di depan pintu gerbang sekolah, sambil mengenggam tangan seorang wanita. Di tengah keramaian, bel pun berbunyi. Lalu dengan berat hati, gue perlahan melepas genggaman tangan itu, dan
berjalan lurus, sedikit demi sedikit, namun akhirnya gue merasa gak kuat, gue dengan kencang... nangis.

Gue yakin kalau tidak dijelaskan lebih lanjut, cerita ini akan terkesan sangat absurd. Jadi ini adalah awal dari cerita ketika gue mengingat masa TK gue.

Di saat TK dulu, gue akan selalu digandeng nyokap, dan berhenti sejenak di depan pintu pembatas masuk. Gue selalu merasa, ketika gue melewati pintu gerbang berwarna silver ini, gue seolah akan dipaksa menjadi dewasa. Selalu ada rasa takut dalam diri gue, lalu nyokap akan selalu membujuk gue dan gue pun berjalan masuk, dan gue juga selalu nangis dulu sebelum masuk kelas.

Ketika gue berpikir lagi, kejadian itu terjadi 14 tahun yang lalu. Bahkan gue sekarang udah gak perlu masuk lagi ke pintu gerbang yang selalu gue lewati.

Gue memasuki pintu gerbang yang baru, Universitas. Jujur, gue kembali merasa takut.

Dibandingkan saat gue masih kecil, ketakutan gue adalah karena gue harus pisah dari nyokap, ketemu sama temen-temen yang ngeselin, dipaksa makan nasi pake kuah wortel yang sangat gak gue suka, dan ikut pelajaran olahraga di mana gue gak bisa olahraga.

Tentunya gue tahu, ketika masuk kuliah, gak ada satupun dari hal-hal diatas yang akan menjadi ketakutan gue sekarang. Nyokap emang gak nganter gue lagi semenjak SD kelas 6, gue selalu bermain hanya di temen-temen yang gue anggep enak, gue makan apapun yang gue suka, dan... gue emang tetep gak bisa olahraga jadi yaudah.

Gue hanya berharap, gue bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru yang akan gue hadapi ini. Gue gak meminta agar gak ada hal buruk yang terjadi, tapi kalau nanti ada, semoga gue bisa mengatasinya dan hal buruk itu bisa jadi topik yang seru untuk posting blog selanjutnya. (Karena gue sekarang bener-bener kehabisan ide...)

I have no idea,
Penulisjournal.

8.7.15

Nginep di Sickhouse

Nyamuk aedes aegypti. Seekor nyamuk yang bisa membuat seseorang menghabiskan 5 juta dalam 1 malam. (Tapi sayangnya habis bukan buat party.)

Untungnya seseorang yang cukup malang untuk terkena penyakit DBD ini bukanlah gue, tapi temen deket gue.

Beberapa bulan terakhir ini, 2 orang teman lain juga terkena DBD, sekarang giliran dia, dan gue lagi berusaha memecahkan pattern untuk mengetahui kapan giliran gue. #finaldestination(?)

Anyway, ketika gue menulis tulisan ini. Gue sedang berada di kamar VIP RS PIK, nomor 7511. Jam 4.15.

Gue nginep karena kasian sama dia, lalu gue nginep juga karena besok gabut dan gak tau mau ngapain. Setelah gue pikir-pikir, 90% alesan gue nginep ada di yang kedua. Karena jujur, manusia emang seneng melihat orang lain tersiksa, apalagi temen sendiri.

Supaya gue gak keliatan semacam psikopat gak berperasaan, dari kecil pun kita udah main tepok nyamuk pake kartu, tiap ada yang kepukul, terus teriak kesakitan, kita malah seneng. Barusan gue dan temen gue, melihat si korban (yang kena penyakit), di infus. Gue agak sulit menjelaskan dengan bahasa dokter, tapi secara visual dan simpel, infus adalah tusuk-jarum-di-kulit.

Dari kalimat gue barusan, dapat ditarik 2 kata penting. 'Tusuk' dan 'Jarum'.

Si korban nanya ke suster, 'Sakit gak sih di infus, Sus?'
Sambil persiapin alatnya, dia menjawab, 'Ah, cuman kayak di gigit semut.'

'Iya semut, tapi diatas semutnya ada tawon.' Kata temen gue.
Lalu gue bilang, 'Kalo cewek sih sakit, Nic. Kalo cowok, enggak.'

Terus dia malah diem, mukanya terlihat berpikir. Dari apa yang gue tebak, dia lagi meyakinkan dirinya, kalau dia bukan cewek.

Akhirnya, infus pertama dalam hidup dia berjalan dengan lancar. Hasilnya bagus. (Gak tahu sih lihat bagus atau jeleknya darimana, dan gue sebenernya gak gitu peduli juga...)

Sebelum gue nginep, gue pergi makan dulu sama temen gue, tinggalin si korban sendirian bersama TV dan hape dia yang udah lowbat. Kenapa lowbat? Karena cas-an dia gue pake buat ngecas hape gue, hehehe.

Pas balik, eh kampret. TV menyala dengan suara kecil, dan dia udah ketiduran kayak baby. (Baca: kayak babi). Ngorok, pules, iler kemana-mana, cuma kurang bau kandang aja.

Sebagai teman yang baik, gue mematikan lampu-lampu dan menyalakan lampu redup. Tapi sayang sekali, gue malah membangunkan orangnya karena gue berisik ketika lagi matiin lampu.

Karena gue emang gak berniat jagain orang tidur, gue pun tidur. Tapi setelah 2 jam, entah semacam karma, gue seperti tidak diijinkan tidur dan mendadak terbangun... karena kedinginan. Waktu menunjukkan pukul 3.56. Tau-taunya temen gue juga ikut kebangun, emang sekalipun sakit, jiwa satpamnya memang tidak bisa hilang. Jadi, gue matiin ACnya.

Dan lagi, gue gak bisa tidur.

Hal yang tadinya bikin gue ketawa, sekarang malah bikin gue gak bisa tidur. Alat infusnya, mengeluarkan suara tetesan kayak suara AC bocor.

In the end, karena gak bisa tidur, gue mengambil hape dan menuliskan kata per kata tentang bagaimana gue melewati malam ini disini.

Masih gak bisa tidur...
Penulisjournal.

6.6.15

start of something new

About 6 days ago, bisnis gue dan temen gue baru saja berjalan.

Kita open perdana di hari Senin, opening hours dari 4pm-12am, gue dan team gue udah stay dan prepare dari jam setengah 4. Lalu waktu terus berjalan, jam 5, jam 6, jam 7. Masih gak ada satu pun yang pesen. Gue mulai ngerasa gagal...

Akhirnya 7.30pm, beberapa temen gue dateng buat store visit, dan gak tau kenapa, setelah itu mendadak terjual terus dengan sangat cepat. And for the next few days, it's going better and better.

For the selling record, for weekdays penjualan gue untuk sekarang ini selalu masuk ke target, and weekends melebihi target.

I work (and also play) at The Playroom, PIK. It's a nice place, I'm not having trouble adapting with people yang ada disana. Dari food runners, servers, securities, staff kitchen, even all the managers. 

Overall, gue sangat senang berkenalan dengan orang-orang baru, dan tentunya dengan working experience yang lebih banyak dari gue, kita bisa sharing pengalaman, ngobrol-ngobrol, Eventually it turns out whoever the person is, we can actually learn something from them.

Gak tau kenapa, gue merasa ketika gue bekerja di sini, gue seakan gak kerja. It's not something seperti classic cliché, 'Do what you love and you will never work a day in your life'. Tapi, gue personally enjoy staying disini, I found my passion at working with people and maybe being abit bossy to someone ;)

But I found it hard to find a good joke now. I'm being too serious in life these past few days, and I know it well this is not a funny post at all. I hope I found my way back into jokes :')

its a playroom, but its not for me.
penulisjournal.

26.5.15

finale.






 May 23rd, 2015. Graduation Day SMA Tarakanita 2.

Akhirnya gue mencapai akhir halaman dari buku SMA yang sangat panjang ini. Sebuah buku yang kalo gue baca ulang, akan menceritakan seberapa banyak perubahan yang terjadi dalam 3 tahun, dari masa-masa bocah, hidup penuh main-main, dan sekarang menjadi orang yang lebih siap untuk menghadapi masa depan.

Eventually, the end turns out to be a good ending. It was a great adventure. Banyak yang sudah pernah ditulis di blog ini juga. And, finale. Graduated.

senior year ends,
Penulisjournal.

18.5.15

akibat melihat tembok putih

Gue sekarang merasa bego banget karena selalu pengen dianggap dewasa sama orang-orang, dan menjadi dewasa, di umur gue yang belum dewasa.

Gue selalu punya mindset visioner yang selalu menganggap diri gue adalah orang yang sudah dewasa, semua di sekitar gue adalah bocah, dan masalah-masalah yang dihadapin terlalu anak-anak banget. Gue selalu prioritize masalah-masalah yang lebih berat dan mengesampingkan masalah yang gue anggap minor kayak masalah percintaan, gosip-gosip antartemen yang lagi happening, kayak itu gak cukup urgent untuk dipedulikan.

Then it hits me. Sebuah pemikiran yang cukup dalam setelah ngelihatin tembok putih di kamar tidur selama 7 menit.

Pertanyaan pertama adalah kenapa? kenapa gue selalu mengesampingkan masalah minor itu? masalah sebenarnya tetap masalah, terlepas itu besar atau kecil, all I thought adalah it's not quite urgent jadi bisa di solve nanti.

Banyak orang-orang menyesali hidupnya karena simply mereka sama kayak gue, memprioritaskan yang lebih penting atau besar, melupakan yang kecil, sampai akhirnya sadar masalah kecil itu lama-lama jadi besar. Atau mungkin juga mereka mengejar sesuatu yang disebut 'dewasa', sampai merelakan masa-masa 'belum dewasa' nya.

Ibarat puntung rokok yang dibuang sembarangan di hutan, masalah kecilnya adalah seorang penebang terlalu malas untuk mematikan rokok itu, dibuang sembarangan, lama-lama api kecil dari rokok membakar seluruh hutan, terus penebang akan menyesal. Dari penebang yang pengen dapet kenaikan gaji, kerja dengan semangat supaya semakin banyak pohon yang bisa ditebang, dan dijual. Malah akhirnya, semua yang diinginkan in the end gak tercapai.

Simpelnya, kalo gue yang masih umur 17 tahun ini terus-terusan mikirin problem umur 25 tahun. Nanti kalo gue udah 25 tahun, gue mau mikirin apaan? masa gue mau balik mikirin masalah di umur 17 tahun? Masalah nyari pacar yang udah terlalu telat. Temen-temen gue udah pada ngasi undangan nikah, dan gue masih nyari pacar.

All I need to do adalah menyesuaikan problem yang ada pada diri gue dengan usia yang sedang gue jalani.  

"It will be best to let everything shows up on it's own way, and on it's own time."

Kalo gue masih muda, gue harus berpikir muda, dan gak perlu berpikir 'terlalu' dewasa, bukan karena gue masa bodoh dengan kedewasaan. Tapi karena gue gak mau nanti ketika gue dewasa, gue menyesal kenapa dulu gue gak menghidupi dunia remaja gue selagi gue bisa.

Spent 7 minutes thinking, 37 minutes putting it on this post.
Penulisjournal.

15.5.15

stopping right here

Steps that were tiring my legs as we walk far
Then you smile and laugh which wears all fatigue
My heart beats faster, gets warmer
As I see you staying right beside me

It was hard
Knowing you having a hard time
And I can't be the one to help
You wish someone else will help, but I know for sure he won't be there

Then? Why do you keep on seeing him?
I'm sad, my heart felt sick
Waiting here is tiring, I thought about leaving several times
But then you give me a little hope, I come back to stay

I felt nothing while going out with other girls
No one can give me interest as lovely as yours
I love you, I just love you so much
Please be mine. Well... I know you can't be mine :')

---

Choose another guy
I don't give a f*** anymore.
Just joking, don't do it
Yeah f** you. Wait, I mean, I f***ing love you.

I lied a lot
I avoid a lot
Because it was so boring now, you've changed.
Should I change too? Or have I?

A or B?
Stay or leave?
Now I'm becoming stupid over two choices
Or is it you? am I becoming stupid for you?
I don't know, I like you but now I hate you
But I still like you, shit this is confusing

Leave, f*** you, damn girl, stop it.
I can't do this anymore. I'm tired.
Will not reply, will not care.
Yeah, I wish I can do that.

6.5.15

'indomie dua, telor setengah mateng'

Lagi enaknya mimpi, tiba-tiba gue dibangunin.

'Vin... bukain pintu buat mbak, Vin.'

Mbak gue yang sudah tua itu tiba-tiba mau pulang kampung. Ini disebabkan bukan karena dia lupa tanggal lebaran, tapi karena dia dan suaminya yang ada di kampung lagi ada masalah. Katanya sih dia dituduh selingkuh... sama kuli yang ada di sebrang rumah (ternyata hidup seorang mbak-mbak pun bisa kayak di FTV...)

Akhirnya dengan menggunakan semua tenaga dalam yang gue miliki, gue menuruni tangga dan sampai di lantai bawah. Mata gue terbuka sebelah, tanda masih sangat sangat sangaaaaat ngantuk, dan mbak gue masih bisa bilang, 'Vin, ini di cek dulu satu-satu bawaan si mbak...'

Gue dengan mata elang melihat kalo bawaan dia hanya 2 kardus indomie diiket tali, sama satu tas ransel yang sangat gemuk. Gue dengan suara berat dan nada agak ngusir, 'Udah-udah gak usah... sini kuncinya.'

Terus dia keluar dari rumah, gue kunci pintunya. Gue tidur lagi.

Udah kok itu aja.

Gak deh.

Ternyata karena dia pulang, mbak gue gak bisa balik lagi...

Mbak gue ijin pulang kampung selama 1 minggu, di hari ke-4 dia telpon nyokap gue dan ngabarin kalo dia gak dikasih kerja lagi sama suaminya...

(Gue jadi berpikir apa ini salah gue, coba kalo hari itu gue susah dibangunin, dia gak bakal dibukain pintu, dan bakal masih tetap kerja disini...)

Meskipun dia udah cukup tua, agak budek, suka ngomong jawa yang gue gak nangkep dan mobilitasnya agak lambat. Tapi kemampuan bikin Indomie dan telor ceplok setengah mateng dia yang rasanya bintang 5, membuat gue gak bisa merelakan kepergian dia...

Sekarang gue jadi gak bisa bebas jalan-jalan di rumah gak pake baju dan cuma pake kolor... Gue cuma berharap semoga mbak barunya bisa beradaptasi dengan keanehan gue.

mbak... sing ngendi,
Penulisjournal.

5.5.15

untuk kamu disana

'Apa sulitnya sih bilang ke dia kalo lu suka sama dia?'

Gue hanya gak mau semua berakhir sia-sia, lalu hubungan gue dan dia berakhir dengan canggung. Gue sudah tahu dia gak suka gue, meski gue sadar gue punya perasaan sayang yang banget buat dia, tapi kalau emang gak bisa dipaksakan, gue sadar gue harus berhenti.

Terkadang gue mau mengikuti prinsip gue, yaitu gue gak mau hidup dengan penyesalan karena gak melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan, tapi gak gue lakukan. Tapi untuk dia, supaya semua ini memiliki ending yang cukup tenang, gue akan melanggar prinsip itu.

Untuk dia, yang bahkan sampai detik ini, di pikiran dan hatinya mungkin tidak terlintas sedikitpun, perasaan yang gue simpan buat dia.

Ketika menyukai seseorang, tapi tidak terbalas, bahkan lagu favorit dia, sekalipun bernada menyenangkan akan terasa menyedihkan.

Ketika menyukai seseorang, tapi tidak terbalas, dipaksakan bagaimana pun juga, perasaan yang pernah ada akan sangat sulit untuk hilang.

Gue hanya bisa berharap dalam beberapa tahun ke depan, ketika banyak hal sudah berubah, dan gue bertemu lagi dengan dia, kita akan saling melupakan satu sama lain, dan mungkin memulai semua dari awal, sebagai 2 orang yang lebih dari teman.

Atau mungkin, gue hanya bisa berharap dia sadar, kalo gue akan selalu ada di belakangnya dan menunggu dia berbalik.

here i am,
Penulisjournal.

better.

May 4th, 2015.

Gue mengetik post ini dengan perasaan senang dan lega, post ini akhirnya gue bikin juga, post yang menandakan kalo gue akan segera mulai bisnis.

It's quite early for anak seumuran gue, seseorang yang bahkan baru mau masuk kuliah semester 1. Tapi siapa tahu dari hal ini gue bisa belajar lebih, dan mulai lebih awal kan gak ada salahnya juga?

Jadi setelah rapat terakhir kemarin, gue fix melakukan kerjasama dengan salah satu restoran yang ramai dikunjungi orang. Contract agreementnya udah dibuat, tinggal sedikit revisi dan diskusi lagi, Bulan Juni gue akan start.

Gue inget semua berawal dari kamar gue, Desember 2014, ide yang dulu terasa sangat jauh itu sekarang sudah terealisasikan 70%. Semua step meskipun agak lambat akhirnya berjalan juga sesuai harapan.

Akhirnya setelah semua perjuangan gue, interview orang, survey harga, ketidakbisaan gue tidur, gue akhirnya jalan juga.

Semua sudah dipersiapkan dengan matang, dan semoga berhasil sesuai dengan ekspektasi.


Dan akhir kata, gue merasa... gue sekarang sudah mulai bisa tidur lagi.
Penulisjournal.

dua tahun lagi kepala tiga

umur gue 28. apakah gue sudah cukup dewasa untuk kasih wejangan? ya udah lah, barangkali ada yang butuh. semua bersifat random, semoga kepak...