11.7.26

dua tahun lagi kepala tiga

umur gue 28. apakah gue sudah cukup dewasa untuk kasih wejangan?

ya udah lah, barangkali ada yang butuh.


semua bersifat random, semoga kepake.


di dunia ini banyak orang seperti mushroom di super mario bros. hanya perlu dihindari.

kalo orang ajak ribut, jangan diladenin.

karena orang yang suka ribut, hidupnya nothing to lose. mereka nobody dan have nothing.

kalo lu masih punya a lot of things to lose, kacangin aja.


sebelum bereaksi, pause dulu.

jangan langsung ngoceh, jangan langsung bad mood dan nethink.

pikir dan proses dulu, wajib kepala dingin sebelum kasi feedback.


semua orang bener menurut versi masing-masing.

tergantung background hidup yang mereka jalanin, siapa yang ajarin mereka,

belajar menghargai sudut pandang orang tanpa paksain, "harusnya kan begini."

karena kalo menurut dia maunya gitu, ya udah gitu aja.


fokus dan waktu kita terbatas, pilih-pilih mau buat apa.

belajar pilah mana yang penting dan worth our time

vs yang perlu kita hindari biar ga buang waktu.


people come and go and it is totally fine.

beberapa orang hadir dalam hidup lu ga untuk selamanya sampe akhir.

some of them memang dateng buat kasih lu lesson, then we move on our own separate way.


mending capek kerja daripada capek cari kerja.


belajar lihat ke bawah, belajar bersyukur sama apa yang kita punya sekarang.

kalo melihat ke atas mulu, hidup bisa termotivasi, tapi kebanyakan malah timbul rasa iri.


marah dan tegas itu dua hal yang berbeda.

marah itu emosi, teriak, nangis tanpa logika.

tegas itu tenang, pake prinsip dan logis.


belajar diem. gak perlu dibales ataupun dijawab.

silence gives them space to think of what they are doing towards you. silence sometimes is the best reaction.


kita gak perlu rasa takut dalam hidup.

kalo kepepet juga rasa takutnya pasti kelawan.

belajar lakuin dan hadapin saat merasa takut.

kacangin aja rasa takutnya.


tiap orang punya starting point yang beda,

jangan bandingin hidup lu sama hidup orang lain.

fokus ke diri sendiri, urus diri sendiri, jangan kebanyakan urus hidup orang.


banyak orang mau jadi kaya, berlombalah jadi orang baik.

dunia ini udah kebanyakan orang kaya, tapi sedikit orang baik.


there was a clear shift away from...

Melihat kebelakang itu aktivitas yang seru.


gue memulai space ini ketika masih SMP.

baju seragam, celana pendek biru tua, plus gue juga masih pendek.

suara cempreng, jokes garing, hobi main facebook.


Kalo dihitung... itu sudah sekitar 15 tahun yang lalu.


9-10 tahun lalu, gue masih kuliah. ikut organisasi nyari koneksi,

mikir lulus mungkin kerja kantoran di BCA, makan bekel biar uang jajan bisa buat pacaran,

berusaha dewasa tapi masih emosional.


berseragam tapi celana panjang, 12 tahun lalu gue masih SMA.

introvert yang suka sama cewek tapi ga berani bilang,

introvert yang mendingan muter jauh lewat belakang parkiran daripada nyapa anak IPA yang gue gak kenal.

baru belajar naik motor. jatoh dari motor.

belajar naik mobil. mobil ketabrak.



Gue yang sekarang udah kerja selama 9 tahun,

baru nikah, istri (baru) satu, belum punya anak.

ketemu dan berinteraksi ratusan manusia berbeda-beda karena pekerja jasa.

dari yang kaya, pura-pura kaya, bawel, boti, yes man, npd, ganteng, cantik, tua, anak kecil.

tidur sering subuh padahal udah minum magnesium.


at some point now, I kinda missed how simple it was back then?

how life were not predictable tapi tetep ada batas aman yang sebenernya predictable.


kayak lu tau aja besok tuh ke sekolah atau ke kampus,

rutinitas jelas, minim tuntutan, hidup adalah jajan dan jalan.


now i need to draw my own path... yang gue aja gak tau ini bener apa salah... apa bener-bener salah?


anyway, just an update. I am planning to move from Jkt to this small town in NZ. Been preparing for 2-3 months now, will move in 6-7 months.


fingers crossed, it is a tough decision. it is scary. but it is what I feel is right.


Crazy how now, gue tau kalo di hidup kita yang sementara ini... kita terus mengalami jutaan pengalaman yang melibatkan perasaan.


Dan sebagai manusia dengan free will, gue gunakan will ini untuk cari cerita yang pengen gue tulis dan coba.


(btw kalo siapapun dari kalian stumble upon this blog, info aja I am now just using this space as a reminder of where I am hahaha jadi tiap post mungkin ga bermakna-makna bgt.)


Au revoir,

penulisjournal.

25.6.25

hidup yang tidak sempurna

"Terakhir kali makan indomie kapan?"

"Mungkin 2 tahun lalu kali ya, itu pun gak sengaja karena ditawarin." Kata Sam, temen kerja gue yang skor pace larinya 5 di Strava.

"Kalo ayam goreng?"

"Itu malah gua gak suka."


---

Gue dan Sam sangat bertolak belakang tentang kesehatan.


Di waktu senggang, Sam akan berlari dan berolahraga.

Di waktu senggang, gue akan rebahan sambil main Mole.


Sam beli minuman selalu no sugar,

Gue beli minuman less sugar apabila bareng pacar, normal sugar apabila sendirian.


Sam bangun pagi satu jam sebelum memulai hari,

Gue tidur begadang lalu bangun kesiangan,

Sungguh bukan sesuatu yang layak dibanggakan.


Ironinya dengan tahu semua ini, gue masih tetap stuck dengan diri ini.

Dan ini bukanlah postingan komitmen tentang, "Gue janji gue pasti bakal berubah."


Oh, I've tried that for 2 years now.

Berubah di mulut aja, tindakannya enggak.


Menjadi manusia yang tidak bisa bangga dengan keadaan.

Menjadi manusia yang terlalu nyaman dengan kegagalan.

Mewajarkan pula, mencari alasan pembenaran atas tindakan.


Ya seperti itulah, hidup gue 4 tahun terakhir ini.

Tapi nyatanya, semua ada plus minus, bahkan di hidup yang tidak ideal seperti gue.

11.10.24

i remember you.

there was your warmth,
and there was darkness when you left.

Everything slipped away—
empty days, I lost it all.


We were as close as breath to skin,
perhaps even closer.

I liked your eyes watching me,
your hands touching me.
I spent many days thinking, longing, waiting.


In my sleep, I tried to forget—

a dream where you left the moment I opened my eyes.
It felt as if sleep was an escape,
in this silence, I glimpsed a light,
a way to live without you.
After all, it wasn't you.


I want to be fine without you.
As I tried to recall how things were between us,

how our eyes met,
how you stayed—
then it all got blurry.

A table for two,
unsettled emotions,


and how you broke me,
staring into my shadow.
I let it die there.


I wonder at this hour,
how have you been?

Maybe—

we were always just a maybe.


Since that day, I’ve been lost.

But still, I keep walking,
carrying a pain I will never fully understand.
And yet, I don't want to be fine without you.

--


a poetry i made back then. unpublished til now.

totally forgot how it felt like writing this back then, tapi karena bagus jadi di post.

10.10.24

about overthinking...

 this post will be a friendly reminder that I had once go through a very stressful life.

tapi sekarang sih udah enggak ya.


ada masanya semua hal menjadi masalah,

kecil ataupun besar, pokoknya harus diributin.


gue tidak menemukan satu hari tenang pun dalam hidup,

padahal berisiknya gue yang ciptain sendiri.


terganggu macetnya jalanan, suara bising, sifat orang yang annoying.

ketakutan akan masa depan, kebencian mendalam kepada orang,

tendensi untuk mengontrol situasi secara berlebihan, sesuai dengan keinginan.

ingin dipahami orang, kecewa bila tidak dihargai.


tak dapat dipungkiri,

gue adalah anak kecil yang merasa dirinya telah dewasa.


padahal sudah baca buku stoic, tapi tidak dipahami dengan hati.

paham teori, tapi tidak dengan praktiknya.


bersyukur bisa sampe di titik sadar kalau semua sebetulnya bukanlah masalah.

kalau semua ini hanyalah gue vs pikiran gue sendiri.

kayaknya gua tambah tua deh

semenjak kenalan sama lower back pain.

hobi gua tidur siang dan tidur malem gak bisa malem-malem.


mulai demen makan hotpot dan minum kuah-kuah.

stamina makin lemah, mulai mencari tips hidup lebih sehat.


udah lupa marah-marah,

kalo ada masalah, dianggap gak ada aja.


all jokes aside, i finally find my zen on somewhere in end of August this year.

Been living like a proper adult for 1-2 months by now.

Getting more stoic day by day.


Sekarang udah bener-bener bisa bengong dan enjoy hidup di tengah ketidakpastian dunia.

Bisa bilang gapapa yang beneran gapapa juga.

I am happy where I am today.

And I won't worry that much of tomorrow.

I believe, God provides me.


i am not just getting older, but feeling older.

penulisjournal.


18.6.24

curhatan usia dua enam

 pengen deh bisa ninggalin sebuah impact besar di dunia ini.


mungkin gak sebesar menjadi presiden,

atau menciptakan AI,


masih mencari sih, tapi kontemplasi hidupku kembali lagi kesini.

tarik mundur 10 tahun terakhir,

gue berubah-ubah dan hidup punya tujuan yang berbeda tiap tahunnya.


hidup pernah tentang mencari dimana gue bisa merasa "belong" di dunia ini.

lalu ada hari dimana setiap harinya tentang uang yang bisa dikumpulkan.

juga ada hari gue butuh validasi eksternal berupa apresiasi dan status sosial.



yang sekarang mungkin tidak lagi dikejar,

dan lebih bisa menemukan titik puas dari internal value.


puasnya punya badan sehat,

puasnya melihat hasil karya tanpa butuh validasi,

puasnya makan dan kopi yang ku nikmati hari ini,

puasnya tidak mengejar uang,

puasnya biasa saja melihat angka followers segitu,


sampai titik 2-3 tahun lalu, aku sangat gila tentang itu semua,

yang sekarang ku sering tanya pada diriku sendiri, "Gue ngapain sih dulu mikirin gituan?"


namun di usia ini pun,

masih sering berdebat dalam pikiran,

adanya rasa takut karenaku bukan orang lahir kaya.

tapi hidup ini sementara, hidup ini harus diisi dengan apa?


di usia 26, rasanya semua seakan...

tau-tau udah umur segini aja?


tantanganku juga melawan kemalasan diriku sendiri,

belum bisa membentuk kebiasaan positif,

tapi perlahan ku coba. ku manifestasikan.


ini adalah sebuah tulisanku tentang value hidup.


ingin rasanya ketika memandang langit-langit kamar sebelum memejamkan mata,

aku bahagia dengan apa yang sudah ku berikan hari ini.


penulisjournal.


21.6.23

adventurer

Satu yang tidak pernah bergerak mundur... waktu.

Satu titik pivot dalam hidup adalah ketika gue memutuskan keluar dari full-time vendor wedding yang cukup ternama untuk mengejar karir di dunia komersil.

Beberapa bulan pertama pandemi menyerang, gue nyesel banget mikirin kenapa gue keluar ya?

Pemasukan sempet pas-pasan. Mencoba mencari hikmah di balik itu semua.

Tapi gak nemu tuh jawabannya.

...

Sampai fast-forward 2,5 tahun berlalu, banyak banget pengalaman yang terjadi. Excitement yang mungkin gak bisa gue ambil ketika gue masih disana.


Gue bisa diterbangin ke Singapura, bolak-balik Bandung, Bogor, shoot prewed di Bali, Jogja beberapa kali dalam setahun dan buka studio foto.

Shoot artis dan influencer besar seperti Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Saykoji, Putri Delina, Titan Tyra, Awkarin, Molita Lin, Juliana Stephanie. 

Bikin video compro buat Gramedia, pabrik kardus, pabrik boneka, pabrik Lungene, pabrik baju. 

Brand-brand gede juga sempet masuk kayak Nevada, Playboy, Flip, Advance, Azarine, SAFF n co, Colorbox dan masih banyak lagi.


Ketemu client-client kaya yang gak banyak minta, gak pake nego.

Ketemu client-client yang terlihat kaya di ig tapi nego mulu sampe gakuat akhirnya gue ghosting.

ketemu client-client budget yang banyak mau, herannya client budget ini mirip-mirip. revisinya banyak, selalu minta hasil cepet tapi giliran pelunasan kayak lagu Mahalini. Lalu pergi dan menghilang.


Ada pendewasaan yang gue lihat dalam diri ini, salut sih seorang introvert seperti gue bisa survive di dunia pusing ini. Walaupun kadang sering mikir ini mungkin faktor hoki dan mulut ke mulut, but I guess I did pretty good and that happened already. So it is a history worth-sharing?

Upcoming di bulan Agustus gue juga akan ke Paris, Italy dan negara-negara Eropa lainnya. Menurut gue ini salah satu pencapaian di karir video sih.


Pertanyaan gue di 2020 akhirnya terjawab dengan proses, walau awalnya ragu apakah ini keputusan yang tepat..?

Sekarang ini adalah keputusan terbaik. Bukan karena dibandingkan, tapi karena ini yang gue pilih.


And that is me, an adventurer. Seeking what can life be. 


Looking forward to what can be.

penulisjournal.

28.10.21

kenapa gua sekarang nulis jadi berat banget ya

setiap tahun rasanya semakin berkesan. semakin nyata.

problem hidup jauh lebih ngena aja.

ibarat dulu sakit itu ketika ditampar, sekarang sakit adalah disirem air panas sambil ditampar nonstop 24 jam.


di tahun ini gue banyak ditegur hidup.


ditegur untuk berpikir, apa motivasi dan makna hidup gue, 

sempat ragu dengan karir mau lanjut kemana,

struggle menemukan orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup,

mencari cara bahagia.


di awal tahun, semua adalah pertanyaan.

menuju akhir tahun, semua mulai terjawab.


kalo gue baca post sebelumnya, gue bener-bener bocah galau hilang arah. padahal itu literally tetep gue beberapa bulan lalu, tapi gue pun merasa wtf pas baca postnya.


ternyata hidup itu enak ketika ga terlalu banyak dipikirin. harus berjalan sesuai arus.

misteri arus itu akan membawa kita kemana, itu yang bikin seru.


di bulan ini gue mencoba beberapa hal baru.

coba masuk crypto, pacaran sama temen baik gue, mau mulai franchise.


dan gue sendiri excited dengan update yang mungkin terjadi nanti.

but until then,


to the moon,

penulisjournal.

29.6.21

 i don't even know where to begin, i just feel like nothing really works with my relationship life.

up to the point it got me thinking, maybe i deserve to be alone.

i tried to heal and believe that love still exists.

yet things just don't add up.


while seeing everyone, finding theirs special someone.

i wonder where you are? are you even there?


i ask the universe, don't let me down this time.

or is this the sign, to give up on love?

16.5.21

is it?

 is it okay to hope?


i mean, these days are just getting scary y'know.

scary enough to lose hope.


that when you like someone,

it feels scary that she doesn't like you back.

or that she doesn't return your feelings.


will it be easier to be alone?

but when the rain and darkness hits,

loneliness is all you feel.

10.4.21

memilih sisi

tahun lalu, 70% dari 365 hari mungkin diisi dengan pertanyaan dalam hati, 

"Kenapa ya gue gak hepi sama hidup gue?"


sekarang di tahun ini, gue malah bertanya, "Kenapa sih gue mikirin pertanyaan itu terus?"

padahal kalo dipikir-pikir, sebenernya dalam hidup ini gue sering merasa bahagia.

cuman gue terus fokus untuk melihat alasan-alasan untuk tidak hepi dalam hidup.


yang gue pelajari banget adalah hidup ini masalah memilih sisi.


A grandfather told his grandson,
"Our life is the battle between two ‘wolves’ inside us.

One is evil. It is anger, envy, jealousy, sorrow, regret, greed, arrogance,  
self-pity, guilt, resentment, inferiority, lies, false pride, superiority, and ego. 

The other is good. It is joy, peace love, hope serenity, humility, kindness,  
benevolence, empathy, generosity, truth, compassion, and faith.”

The grandson though about it for a minute and then asked his grandfather, “which wolf wins?”
The grandfather simply replied, “the one that you feed.”


terlalu banyak berpikir membuat gue sempat kehilangan prinsip dan kebenaran yang gue pegang.

padahal seharusnya hidup itu sesederhana mengetahui apa yang menurut kita benar, dan tinggal diikuti saja.


cuman terkadang kita terlalu larut dalam kenyamanan palsu yang membuat kita merasa itulah kebahagiaan.


padahal ya semu. 

penulisjournal.

18.11.20

update nov 2020

Gak kerasa udah setahun covid menyerang Bumi. Pertama kali muncul di China sekitar November 2019.

Awalnya gue takut karir gue sebagai videografer akan berakhir karena pekerjaan jasa pasti ketemu banyak orang dan social distancing was number one on every news.

Tapi namanya orang-orang Indo, jiwa survival untuk dompet lebih tinggi ketimbang survival hidup. 

Job gue per Juli kemarin juga udah balik normal, client-client pada contact butuh konten dan kerjaan jadi padat kembali. Gak gitu beda sama tahun lalu, ada sih bedanya sekarang napas jadi lebih susah gara-gara pake masker. 

Walau belum akhir tahun, gue merasa tahun ini gue belajar banyak banget.

Gue yang putus, mencoba belajar hidup sendiri.

---

Fyi, gue sempet jatuh cinta lagi sama seorang cewek and it was for only 3 months then we break up.

From that I learned, that it is very hard to find someone and be committed. Banyak hal yang akan lu korbanin ketika lu mau bertahan dengan seseorang. Entah karir, waktu atau pikiran.

Jujur gue sedih banget pas putus. But I do know for a fact inilah yang terbaik buat gue sekarang dan gue yakin dia juga mikir hal yang sama untuk masing-masing dari kita.

Gue sayang dia, gue mau dia bahagia. 

Tapi kalo gue bukan orang yang bisa bikin dia bahagia, gue gak mau egois dan mikirin kebahagiaan gue sendiri. Gue mau dia juga hepi, walaupun harus sama orang lain.

---

Gue belajar juga kalo temen-temen lu itu penting. Mereka bisa mengisi hari-hari lu dan secara gak langsung ikut menulis cerita dalam hidup lu. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini temen gue beda total. But having different experience juga membuat gue merasa menjadi orang yang baru dengan pemikiran yang lebih luas lagi.

---

Tentang kesepian, gue belajar kalo ternyata introvert juga bisa takut sendiri. Rutinitas pekerjaan gue membuat hari-hari gue terkesan monoton. Seru sih kerja, ketemu orang baru, pengalaman baru. Tapi ya that's it. I don't think meeting new people brings joy to my heart. Dari situ gue sadar, gue masih punya tanda tanya besar tentang self-love gue. Gue masih bingung, gimana sih cara bikin diri gue happy?

Semoga soon gue bisa tau.

---

Soal target hidup, mungkin di tahun ini gue banyak banget berserah. Kayak jadi orang go with the flow, gak gitu termotivasi mengejar target and it kinda makes me unhappy. Aneh sih, karena kebanyakan orang nyaman dalam kesantaian. Sementara ketika gue gak produktif, rasanya hidup gue gagal aja hahaha. Sekarang gue pengen banget, jadi orang yang lebih tertata lagi. Punya target, visi dan tujuan hidup yang jelas. Pengen baca buku juga, dan gak cuman ngomong aja tapi bener-bener gue lakuin.

---

Rants ini emang gak ada strukturnya, apapun yang ada di otak gue, langsung gue tuangkan dan tujuannya emang biar gue gak terlalu stres aja. Tulisan ini bukan ditulis untuk kalian, tapi untuk gue sebagai pengingat kalau gue pernah di posisi ini.


ni hao bu hao,

Penulisjournal.

12.10.20

lari jam 7.30

 seharian dirumah itu enak. seenggaknya untuk seorang introvert seperti gue.


gue bangun jam 7.30 pagi hari ini. karena kemaren diajak lari pagi, sama dua ekor temen gue.

gue chat si A, gak ada kabar. setelah jam menunjukkan pukul 8, gue memutuskan untuk contact temen satu lagi dan mendapat info kalo si A yang ngajak lari, malah gak bangun.

(bangke tau gini kan gue bisa tidur sampe siang.)

---

gue orangnya kalo udah bangun, susah tidur lagi. akhirnya gue gak tidur lagi, dan kerja sampe tiba-tiba muncul chat klarifikasi dari A, kalo dia udah sempet bangun jam 7 dan ketiduran. (gatau ini bohong apa engga, intinya dia yang ngajak malah dia yang gak jalan. bangke.)

---

skip skip,

akhirnya hari ini kita jadi lari, tapi jam 7.30 malem. awalnya gue mau sepedaan aja, takut kena php dua kali. tiba-tiba di chat, "otw."


ya seenggaknya jadi,

penulisjournal.



happy with stories

setiap bangun pagi, hal pertama yang gue lakukan adalah ngambil hp buat cek jam, lalu buka instagram dan liat ig stories.

ada yang habis makan enak, disurprise-in ulang tahun, dibeliin bunga sama pacarnya, nongkrong sepedaan rame-rame, pamerin jem tangan, married, pergi ke luar negri, ya pokoknya banyak.

dan rata-rata yang gue lihat adalah emosi-emosi positif... yang anehnya malah membuat gue terkadang jadi negatif dan berpikir,


"kok gua gak sehepi mereka ya?"


...


lalu setelah gue berpikir lagi, ternyata bener juga kata orang-orang kalo instagram itu toxic.

secara gak sadar, mudah banget untuk kita mengakses informasi dan melihat kebahagiaan orang lain. dan jadi mudah juga untuk constantly ngebandingin hidup "bahagia" mereka dengan hidup diri sendiri.


nontonin ig stories kebanyakan bikin gue berpikir kalo, "hidup gue flat banget ya cuman bangun tidur, makan, kerja, terus tidur lagi."


secara gak sadar lagi, berkat ig stories gue membuat standar minimum kebahagiaan gue semakin tinggi.


seakan-akan kalo gak punya pacar, gue gak akan hepi. 

kalo belom jalan sama temen tiga kali seminggu, gue gak akan hepi.

atau kalo belom travel keliling dunia, gue gak akan hepi.


ya padahal yang orang-orang gak sadari, gak mungkin juga orang hidup setiap hari se-happy itu. 

apa yang kita lihat di ig stories itu sebenernya ya highlights aja, sesuatu yang udah dipilih untuk dinikmati orang-orang.


ibaratnya dalam satu hari, paginya kena macet, siang makan bareng temen-temen di restoran, sore berantem sama pacar, malem kerjain deadline.


tapi yang di post di ig story cuman pas makan bareng temen aja.


see how our society shapes our mind nowadays? toxic isn't it?


jadi sebuah pertanyaan untuk teman-teman gue yang hobi post ig stories,

"are you really that happy? or just pretending to be happy?"

4.7.20

sampai jadi debu



Hai,

Ingatkah kamu saat kita masih sedekat nadi, sebelum sejauh matahari?

Ketika kita masih mengisi hari satu sama lain. Menertawakan cerita di malam perjalanan pulang ke rumah.
Pada tengah malam, aku berdoa dan tersadar, bahwa kamu telah mendiami ruang dalam hatiku.

Aku pernah bilang kalau lagu ini mewakili perasaanku.
Sampai saat ini. Bahkan ketika ku tak lagi melihat sudut wajahmu.

Ketika "kita" sudah bukan lagi kata yang kugunakan untuk aku dan kamu.
Ketika “kamu” meninggalkan “kita”.

Saat mengingatmu, kupejamkan mata dan terus mengulang lagu ini.
Percayalah, banyak rindu yang berusaha keras membongkar pertahananku, sembari menuang tulisan ini.

Dan untuk kamu, yang suatu saat mampir dan membaca ini.

Apa kabarmu? Bagaimana hari-harimu?

Begitu banyak hal yang ku ingin tanyakan. Namun hati ini rapuh.

Maaf atas hal kecil yang sering membuatmu marah,
Atas niat baikku yang selalu kau pandang salah,

Pada tengah malam, aku masih terus berdoa, agar kamu baik-baik saja disana.

Kita pernah melengkapi satu sama lain.
Langkah kita pernah seirama.
Doa kita pernah satu rupa,
Tangan kita pernah tak hendak melepas.

Aku hanya ingin kau tahu, bahwa hari ini aku memikirkanmu.
Dan aku tak tahu lagi dirimu ada dimana. Sudah lama kita tidak menyapa.

Namun bahagialah. Karena aku pun bahagia bila ini maumu.
Dari aku yang masih mengingatmu, terima kasih.

16.6.20

voor dilan #iv - kaulah ahlinya bagiku

aku kira pasti kamu,
saat aku berpikir menikahimu.

bertumbuh bersama,
semua sesederhana itu,
tanpa ragu.

walau realita ini pahit,
jujur dan sakit.

namun inilah yang terjadi,
dan biarlah semua menjadi kenangan.

aku mengingatmu,
dan hanya kebaikanmu.

dimana kamu?
bahagiakah kamu?

sampai waktu ini dituangkan,
aku masih terkadang meragukan realita ini.

bahwa hidupku saat ini,
tidak lagi seperti dahulu.

jujur hatiku tidak lagi mau kamu,
yang palsu, bahkan untukku.

tidak bisa lagi kutemui kejujuran,
tidak bisa lagi kupercaya.

hidup dalam kenangan palsu,
terkadang bisa menyenangkan.

10.1.20

a goodbye letter.

Hey,

if you ever read this by chance.

I just want you to listen to this song, because it explains more than how I can put my feelings for you.





Rich Brian’s “Drive Safe” seems to feature two distinct narrative, in the first verse, Brian is seemingly reminiscing on the past in relation to where his life is headed. Thus the song begins with him alluding to the day that he decided to “go rogue”, as in break away “from the pack” and do his own thing. And in doing so he faces both external and internal challenges. However, he has apparently stayed committed to achieving his goals, even though to date he has not definitively realized them. (I know that I put much effort to my career. I lost you because I give you freedoms to be whoever you want and I never regret that it ends up this way.)


But the tone of the chorus and specifically the second verse is different. The second verse (even though it features Rich briefly rapping about himself) is mostly dedicated to what appears to be a romantic interest who he now has a “broken” relationship with. But apparently they are still involved. Indeed the titular term “drive safe”, which is found in the chorus, is directed specifically towards her. And what Rich seems to be telling her is basically to be cautious, in a general sense, concerning how she conducts her life. (We are broken and in the end I still want you to 'drive safe' on your own.)

Indeed on a wider scale, considering the intrinsic ambiguity of the first verse, it can be concluded that Rich is also imparting this selfsame message not only to himself but also the listening audience. And in that regard, the sentiment he seems to be putting forth is that once again people should be cautious and arguably even diligent in the pursuit of their dreams, especially when they are so deep in the quest that there is no turning back. But for the most part this a love song, where Brian is telling his significant other to know that she indeed means a lot to him. Furthermore he tells her that she should be careful in choosing her movements also. (Now, I know this is the path that I chose and there is no turning back. you did mean a lot to me... but I moved on. Now that we are on our own path, please be cautious for whatever you do.)

Thank you for your time.

you know who you are,
Penulisjournal.

25.11.19

sebuah titik baru

setahun lewat lagi dan hal yang sama kembali terjadi.

semacam final destination di real life yang gak bisa dihindari, karena memang jika udah meant to end ya pasti akan mati juga sesuai rencananya.

mungkin yang kebanyakan orang bilang ketika sebuah hubungan berakhir, kita hanya perlu mengingat semua yang manis dan melupakan yang pahit.

Namun buat gua, lebih baik untuk melupakan semuanya.

Karena tanpa dia, semua yang manis pun akan menjadi pahit, dan hidup terus dalam kepahitan seperti ini cuma akan menyiksa aja.

Gak perlu nyesel juga semua yang udah terlewati, seenggaknya banyak pelajaran mendewasakan yang bisa mendorong gua untuk semakin berkembang.

Menarik nafas yang dalam, gua berdoa agar semua yang terjadi dalam hidup gua akan menjadi lebih baik.

Masalah dan cobaan akan terus datang dan mungkin akan sulit untuk menghilangkan beberapa kebiasaan lama, tetapi seiring berjalannya waktu.


Aku pasti bisa,
Penulisjournal.

-
terimakasih.

25.10.19

sebuah halaman di 25 oktober

hi everyone,

segini lamanya ga bercerita lewat tulisan, gue sampe bingung mau mulai darimana.

ratusan hari yang terlewati ini gak hanya lewat begitu aja, setiap harinya mengajarkan dan mengubah gue, menjadi sebuah progres yang jauh berbeda bila dibandingkan gue di awal tahun ini.

sekarang ini gue kerja sebagai freelancer, bukan pengangguran karena gue punya penghasilan, tapi konsep kerjanya emang agak mirip sama pengangguran.

gue suka sama kerjaan gue, kerjaan yang bikin gue belajar banyak hal baru dan ketemu orang baru. dari gue yang introvert banget sampe harus beradaptasi dan ikut-ikutan menjadi extrovert.

kerjaan dimana gue gak terikat waktu 9 to 5, ga harus bangun pagi dan kena macet.

gue sadar juga, sekarang gue mulai nyaman dengan situasi yang ada. dengan lingkungan kerja, dengan penghasilan yang ada dan dengan semua yang terjadi so far.

tapi gue bukanlah orang yang suka dengan stabilitas. so starting from now, i will be challenging myself more to do anything that i dont like doing.

its funny how in a year, every single thing that you once wanted and had in mind, sekarang jadi jauh berbeda setelah lu menemukan banyak hal lain dalam hidup.

gue berharap kedepannya hidup gue akan jauh lebih seru aja, gue ga wish for menjadi lebih kaya, gue cuman berharap banyak ups and downs yang bisa bikin hidup gue jauh lebih punya banyak cerita.

1.1,
penulisjournal.

dua tahun lagi kepala tiga

umur gue 28. apakah gue sudah cukup dewasa untuk kasih wejangan? ya udah lah, barangkali ada yang butuh. semua bersifat random, semoga kepak...