15.3.17

i (didn't) win.

(Since it was an English speech competition that I've been working on. I'll write this on English as well.)

It was a very heartbreaking moment the way that you know there's always someone better than you. But I've never ever imagined that it would be a very big number of people. Out of 88 people, that day I probably ranked around 80-ish something. They were very fascinating yet intimidating at the same time.

Last February, I joined this competition called Asian English Olympics 2017 (AEO) as a speech participant. I wasn't in my best condition, I still got some fever left yet because I've been preparing this whole thing for a whole month (fyi, it's supposed to be holiday yet it doesn't feel like one at all), I feel tempted to keep going (and maybe also bcs i paid half the entrance fee, lol.)

I completely didn't make it anywhere, but I wasn't bad at all (#self-proclaimed), it's just they were better than me (this isn't an excuse).

I've learned that even losing sometimes taught you to keep going, no matter how hard things you'll face. And I'm supposed to join another speech competition this month... but I quit. (Ok, that wasn't very inspiring.)

Just because I don't feel like speech was my thing. And just because I feel that there are some things in life that you'll try, you'll suck at it. And that taught you some great lesson that even if you need to accept it the hard way, but after time you'll eventually get better and improved from those mistakes.

Ladies and gentlemen,
Penulisjournal.

8.2.17

Advertising

Pada akhirnya, setelah seluruh perdebatan dalam hati dan logika, gue mengambil advertising sebagai peminatan final. Alasan kenapa gue gak pilih jurnalistik:

Pas nonton berita Ahok blusukan, semua tangan wartawannya berkulit sawo matang. Kalau gue ikut mewawancara paling diusir karena malah dikira fans paslon bukan wartawan.

Alasan kenapa gue gak pilih public relation: karena gak suka berelasi dengan publik.

Alasan gue tetep kuliah: supaya bisa kerja dan dapet duit.

Memasuki hari pertama kuliah 3 hari lalu, beberapa factsnya adalah:

1. My body condition is not delicious (Baca: gak enak badan)
2. Gue hapal muka tapi gak hapal nama jadi kalo dipanggil gue cuman bisa bilang hai aja
3. Masih tetep telat masuk kuliah

Walau begitu gue seneng banget karena mata kuliah yang ada di semester ini memang benar-benar membuat gue tertarik dan termotivasi bangun pagi untuk pergi ke kuliah.

Dan in about 2 days gue bakal akhirnya memulai lomba speech gue, AEO. Scary as hell, nervous af. Sambil ngetik ini aja perut gue udah nendang-nendang. I hope somehow, I'll win this thing.

Wish me luck,
Penulisjournal.

15.1.17

its 2017, i'm unemployed

Day 15 of 2017. Ya tetap deh untuk formalitas aja, Happy New Year 2017!

Memang rasanya gabut banget hidup gak punya kerjaan di saat liburan. Senang sih, tapi sedih juga.

Beda sama tahun-tahun sebelumnya di mana gue kadang masih sibuk urusin kerjaan... rutinitas gue sekarang malah cuman tidur kemaleman, bangun kesiangan, aktivitas sehari-hari, dan balik tidur kemaleman lagi.

Untuk sedikit pembelaan biar gue paling tidak terlihat sedikit punya kontribusi sama sekali terhadap diri sendiri. Di awal tahun ini, gue lagi sering bolak-balik ke Untar buat persiapan latihan lomba English Speech di AEO 2017 (Asean English Olympics). Jujur, gue seneng banget bisa terpilih mewakili Untar, sekaligus sedih karena gue terkadang masih harus bangun pagi kayak mau berangkat kuliah.

Sekitar 8 hari lalu, kamera baru gue akhirnya sampe juga ke rumah. Berapa kali sempet kayak calon di PHP-in, antara dateng atau enggak, eh akhirnya nyampe juga. That way, gue end up membuat video pertama hasil kamera baru tentang pertandingan olahraga yang diikuti organisasi gereja gue. Later on, I'll upload it.

Dan mungkin satu lagi, kemarin gue masih sempat mencari kerjaan di beberapa situs lowongan kerja, dan still no response until now.

Ada satu sih yang respon, kerjaannya jadi tutor inggris. Tapi langsung gue tolak karena pas baca acceptance letter-nya lagi gue baru ngeh, ternyata gue ngelamar kerjaan di Jakarta Selatan... Dan rumah gue di Jakarta Utara. (Iya, gue emang kadang bego.)

Ngomong-ngomong soal tutor inggris, emang agak wajar sih kenapa gak ada yang respon gue, pelamar kerjanya ada 200 orang. Jadi gue pribadi memaklumi, antara emang ada yang lebih bagus dari gue, atau yang ngecekin CV udah tewas kecapean.

Ngelamar kerjaan bikin gue jadi mikir sih, kalau sampe amit-amitnya gak dapet kerjaan, gue mau makan darimana?

Maka dari itu, gue berpikir kalau kita gak boleh selalu bertaruh pada lowongan pekerjaan dari orang lain, tetapi kita harus juga membuat lowongan pekerjaan bagi diri kita sendiri.

That is why, gue mau balik lagi menjalani kursus untuk 2 hal utama, belajar bahasa Mandarin, dan belajar main piano sampe jago. At least, soft skills seperti ini dicari dan dibutuhkan orang. Minimal ketika demand dunia kerja berbeda dengan yang gue tawarkan secara utama. Gue masih bisa jual sesuatu ke orang lain. (Gue ngomong apaan sih.)

Siapapun lu yang baca tulisan ini sampai di paragraf ini, gue harap lu jangan lupa tersenyum dan juga jangan lupa makan. It is all from me so far, 39 posts to go.

2017 starts,
Penulisjournal.

31.12.16

Last Chapter of 2016

Dan inilah, resolusi gue buat 2016
1. Bertemu dengan banyak orang-orang menarik yang bisa mengajarkan gue hal baru yang membawa manfaat buat hidup gue.
2. Hoping for 'It' to work out.
3. Fit, healthy lifestyle. Gonna workout at least 3 times a week.
4. Attending or working on a Charity event.
5. Re-build my business, and find a lot more passion to work on.
6. Post something for public entertainment (?)
7. For my Instagram page to be filled with great pictures.
8. Study even harder, keep myself motivated.
9. Menemukan hobi baru.
10. Udah.
Ketika membaca 10 points dari resolusi 2016 gue kali ini, beberapa poin membuat gue tertawa.

Still, as always I'm gonna review each points dari resolusi tahun ini.

I met a lot of new faces this year, like a lot. Tahun ini karena gue gabung di salah satu organisasi dan getting the honor as well to be an appointed leader, gue kenalan banyak orang dari organisasi lain, discover happiness yang sempat gue rasa gak akan ditemukan di kuliahan.

Also still remember how shy I am to actually admit being in a relationship with someone. I love you and I really do, (Hope this won't get too cheesy). I'm also getting fatter this year, jadi gue rasa kalian tau bagaimana poin ke-3 gagal untuk diwujudkan. Dan lagi, gue juga gak melakukan charity event karena belum ketemu yang tepat dan karena belum diajak siapa-siapa.

I did rebuild my business, but to only find out that gue gak suits doing business. Putting it aside, I also find another passion to work on such as Videography, Video Editing, and (probably) Photography.

Haven't really post any, tapi gue membuat beberapa video di tahun ini. Goals gue tahun depan setelah beli kamera adalah membuat video lebih banyak (Baik buat latihan doang ataupun buat publicity), Instagram gue di tahun ini isinya muka-muka baru semua dan terkadang membuat gue berpikir mungkin introverted function gue sudah mulai membaik.

I don't really study, but scores untuk UAS gue are quite good. 3.7 out of 4. I find that doing animation took a lot of time but also (at the same time) sangat seru untuk jadi hobi baru.

Having it at the end, gue merasa meteran kebahagiaan gue di tahun ini 7.9/10.

I gotta take notes at my number of followers on Instagram: 612 followers, just curious to see how it will change next year.

RE SO LU SI - 20 17:
1. Bikin minimal 2 video setiap bulan. Upload to YouTube. Grow channel. Just to show-off some skills.
2. Work-out at least once per week. (Which is alr supposed to be easy...)
3. Create a team of people with the same successful mindset through videos.
4. Menang lomba dan mencoba buat gabung di organisasi lain.
5. Still going out with you no matter how crazy or fucked-up shits may happen.
6. Bisa jalan ke luar Indonesia min 1x tahun ini.
7. Beneran jadi volunteer. Harus. Ikut. Minimal. Sekali. Seumur. Hidup.
8. Minimal ada 40 posts di Blog tahun ini.
9. Belajar banyak dari kelas Advertising.
10. Bahagia.

*Hope this year, happiness will come around to whoever reads this post, and continues to stay inside you until 2017 ends.

Au Revoir,
Penulisjournal.

thoughts

untuk seorang pria di masa mudanya, berpikir dan bermimpi untuk masa depannya.
beban, keraguan, ketidaktenangan menyelimuti dirinya, bercampur dan mengisi ruang dalam hatinya.
berusaha mencari apa yang akan dihadapinya nanti, berusaha memulai hal baru dalam hidupnya.
bila tiba saatnya dia harus berjuang untuk apa yang dia inginkan, ia tahu saatnya adalah sekarang.
kesempatan telah muncul dan waktu telah mendukungnya.

lalu, apakah dia berhasil meraih harapannya?
Penulisjournal.

16.12.16

leaving in 15 days

Taken using no DSLR or mirrorless. Only using a phone camera.

To finally reach the end of the year.

Banyak pengalaman yang diperoleh dari tahun ini, begitu pula dengan pelajarannya.
Banyak wajah-wajah baru yang menghiasi tahun ini, begitu pula dengan yang lama, ataupun yang sudah mulai tidak terlihat lagi.

Kalau post ini dibuat satu bulan yang lalu, mungkin skala kebahagiaan gue dari 1-10 adalah 4 atau 5.

Tapi sekarang gue jauh lebih bahagia karena gue merasa gue menemukan arti hidup yang sebenarnya.

Mungkin banyak plan tertunda di tahun ini, mungkin ada juga yang gak jalan, karena itu gue jadi stres dan bete sendiri. Tapi dalam satu bulan terakhir ini gue kembali bertanya, emangnya apa sih alasan gue gak jalanin plan-plan itu?

Simpelnya karena gue sadar kalau gue gak enjoy melakukan itu. I only did it for an illusion of happiness; money.

Doing something you don't enjoy doing will never bring you happiness, even if you got the money. 

I'm not being a fool for saying that you don't actually need the money, but make sure the way you create money also create happiness inside of you. 

Ok, barusan kayaknya agak terlalu serius...

Sedikit recap aja, beberapa momen di tahun ini yang menarik untuk dipoinkan seperti:
1. Mbak di rumah udah gonta-ganti 4x dalam setahun
2. Bisnis gue ambruk
3. Dapet HP gratis dari kondangan
4. Jadi ketua organisasi di kuliah
5. Pertama kali ikut lomba speech
6. Masih LDR (ongoing)
7. Bingung pilih peminatan (I ended up choosing advertisement.)

Gue sebetulnya 'punya' banyak cerita buat diceritain, tapi ya gitu... males ngetik. (hehe)

Personal interest gue emang suka gonta-ganti banget, tetapi kali ini gue (akhirnya mungkin) beneran menemukan passion dan bakat gue, which is video editing and photography. Semoga dalam passion ini, tahun depan gue bisa tunjukin pencapaian di bidang yang gue pursue sekarang ini.

Last post di tahun ini tentu akan tentang resolusi kedepannya, serta membahas lebih tentang pelajaran-pelajaran yang ada di tahun ini. Memang sih jumlah post tahun ini kalah dari tahun lalu, bahkan gak sampe 30... Anyway, I decided to keep on writing on this space until blogspot bangkrut.

Ending soon enough,
Penulisjournal.

3.11.16

riot: coming soon.

I'm so done with all these fucked-up people 'acting' as if they actually care about society and their belief. These so-called 'leaders' dengan pengikut mereka yang bahkan gak kalah bodohnya.

Indonesia mostly dihuni oleh majority of uneducated people. Dan gawatnya karena majority rules, pasti yang lebih banyak dianggap lebih kuat dan kalo rame-rame pasti lebih berani. Hal ini menjadi sangat buruk karena kebanyakan orang-orang uneducated gak bisa menentukan decisions yang tepat untuk hidup mereka. Ketergantungan mereka untuk menyerahkan keputusan pada orang yang berada pada status dan tingkat yang lebih tinggi membuat mereka menjadi pengikut dan ya munculah... kelompok-nasi-bungkus.

Ambil contoh ketika tawuran, semua bergerombol dan gak ada yang namanya maju satu lawan satu. Serius deh, lo itu cuman keliatan kuat kalo bareng-bareng. Kalo sendiri, mental lo gak lebih gede dari mental tikus.

Most of them juga hypocrite banget. Acting as if their belief are being dishonored tapi 'membalas' dengan tingkah laku yang gak mencerminkan orang beragama.

Like seriously, give me a logical explanation, not some sort of a idiotic argumentation unrelated to facts and reality.

Tomorrow they'll make riots by November 4th. If I happen to die in this riot. I hope for China to avenge my life.

Tipikal pendemo Indonesia Nov 4th:
1. Takut sama Tuhan, tapi gak takut sama hukum.
2. They use Allahuakbar. A lot.
3. They use some sort of verse quoted from their books that we don't even understand.
4. They blocked me on Instagram for commenting logical things (Freedom of speech blocked)
5. Percaya sama hari akhir/akhirat/doomsday/judgement day, which no one knows. (Also, probably Ahok will be alr dead before judgement day.)

Any religion teaches you to do things in a more positive way. If you feel offended by words, actions regarding your belief, then reply them in a positive way not by violating your own belief laws.

Mereka semua suci, Ahok penuh dosa.
Penulisjournal.

25.10.16

i don't (wanna) know

I’ve been spending the last 2 years of constantly feeling weird and questioning my entire life.


How I enjoy having real friends, taking pictures of fun things, and living simple. No big or small drama, just being me and accepting the way the world revolves around.


Knowing what is love without questioning every single detail, knowing that we’re still friends even though a lot fights or debates could happen between us at any time, knowing that life will go just… fine.


Who am I acting for? Or is it the time for ‘Welcome-to-the-real-life’ cliché?



I can’t rest my head for a minute, I can’t stop thinking.

I hardly sleep at night, I hardly relax most of the time.

I forgot who I stand for. I de-motivated myself.

I miss looking at all the past experience with a smile that unintentionally pops up.


So if I ask myself, do I enjoy my life?



Not at all.

Penulisjournal.

24.10.16

cfd #1

Dengan setengah sadar, gue mengambil hp dan melihat kearah jam dinding... 4.48am.

Gue bangun sepagi ini bukan karena mau boker... walaupun kentut gue emang sudah secara natural mulai berisik saat gue bangun.

Hari Minggu ini gue bangun untuk CFD (Car Free Day).

Setelah cuci muka, gosok gigi dan sarapan, gue memanaskan motor dan tepat jam 5.20 subuh, gue jalan ke halte Grogol 2. Udara dingin serta langit yang gelap gak menghalangi niat gue untuk jalan sehat bersama 2 temen gue yang sudah menunggu gue di halte. Tanah dan aspal sedikit basah menyisakan bekas hujan deras tadi malam.

Rencana awal buat parkir di kampus gue tercinta gagal karena gue kepagian jadi gerbangnya masih belum buka. Lalu pas gue lagi muterin kampus pake motor buat nyari tempat parkir lain, tiba-tiba mulai turun rintik hujan, tapi gue masih nyantai aja.

Mendadak jadi gerimis kecil, dan gue mulai panik...

TERUS TIBA-TIBA HUJAN KENCENG.

Jaket gue basah pake banget. Kesimpulan sejauh ini: berteduh gagal, gak dapet tempat parkir, dan kedinginan. Pikiran-pikiran galau mulai muncul ketika gue duduk di motor dan menatap hujan yang jatuh,

"Kenapa gue mau aja bangun pagi buat kayak gini."
"Gue bahkan gak bisa pulang."
"Tadi pagi habis makan harusnya gue tidur lagi."

Akhirnya setelah reda, gue kepikiran buat parkir di tempat yang parkirannya gak mungkin belom buka di pagi hari. Mall Citraland. Setelah masuk parkiran, gue berjalan ke halte dan ketemu 2 temen kampret yang menyebabkan hidup gue terlihat sangat menyedihkan di Minggu pagi. Seorang lelaki lemah berkacamata hitam dan seorang perempuan (hampir) kurus berkacamata biasa aja.

Gue yang gak tau jalan cuman bisa ngekor aja, berpindah dari halte ke halte sampe akhirnya turun ke jalan Harmoni dan memulai jalan sehat.

Hari itu ternyata ada Jakarta Marathon, semacam event lari dengan mengambil setengah rute jalan Car Free Day. Yang membedakan peserta dan orang biasa adalah di bagian perut ada semacam sticker race number yang gak dimiliki orang biasa, sisanya sama aja sih.

Setelah (pura-pura) lari, gue mencium aroma soto Lamongan yang mengikat hati. Lalu untuk mengisi kembali ion yang hilang, gue beli si soto dan makan si soto.

Kaki mulai agak sakit, dan gerimis mulai datang lagi. Kita memutuskan untuk balik naik busway, tapi keramaian penumpang membuat gue dikelilingi bocah-bocah swag dengan fashion ala Young Lex kecil.

Anyway, that was my first car free day. (Semoga gak last.)
Penulisjournal.

16.10.16

Take One

I once read a book yang berisi tentang 5 pertanyaan besar dalam hidup setiap manusia. Therefore, gue membuat beberapa pertanyaan besar yang ada dalam hidup gue yaitu:

1.       Mengapa gue lahir di keluarga seperti ini?
2.       Mengapa gue ketemu sama seorang cewek yang gak sempurna?
3.       Mengapa bisnis gue gak berjalan sesuai harapan?

(And another 2 big questions left to be found on my life journey, karena gue pribadi masih berusia 18 tahun dan gue yakin sisanya pasti belum muncul.)

Mungkin beberapa pertanyaan dalam hidup gue memang belum terjawab atau jawabannya masih berupa hipotesa sementara, dan gue pun gak ingin pertanyaan diatas terjawab dengan terlalu cepat. Semua hal dalam hidup ini memang perlu ups and downs, ibarat film yang selalu punya plot twist sehingga ketika dikompilasi dan mencapai ending akan menjadi sesuatu yang menarik untuk diceritakan.

Hidup ini bagaikan film yang masing-masing dari kita adalah seorang pemeran utama bagi film dokumenter hidup kita sendiri. Every action or decisions yang kita buat mengajak kita ke sebuah jalan untuk membuat hidup jauh lebih baik dan seru. Cerita bagaimana Luke Skywalker merasa dia selalu punya sesuatu yang lain dalam dirinya, sampai dia sadar being a Jedi and saving his galaxy was his destiny.

Mungkin gue gak akan selamatin satu dunia ini, atau selamatin satu Indonesia. I’m not some kind of fictional character yang destiny-nya bisa diubah kapanpun sesuai dengan keinginan pembuatnya, tapi satu hal yang mau gue tekankan adalah each of us has a purpose for living. Ketika merasa diri gak cukup kuat untuk jadi pemeran utama dalam film, kita cenderung akan mengubah diri menjadi pemeran pembantu bagi film hidup orang lain which is a bad thing.

Successful person are the best film-maker, hal itu kenapa kehidupan Apple’s CEO sampai dibuat jadi film (Jobs, 2013). Alasan dari membuat film adalah untuk menginspirasi orang lain  supaya bangun dari kehidupan menjadi ‘Pemeran pembantu’ dan kembali menjadi ‘Pemeran utama’ dalam hidup dia.

I don’t know you, and you don’t know me. But if you read this message, I hope you make yourself a good film. 

Roll and action,
Penulisjournal.

8.10.16

te(tangga)

Let me tell you about a story of a family.

Hiduplah satu keluarga dalam sebuah rumah berisikan 1 anak cowok, 2 anak cewek, papanya, mamanya, dan mbak Rani sama mbak Tiwi.

Kerjaan mbak Rani (atau Tiwi) setiap pagi adalah menyuci pakaian di lantai 2, sambil nyanyi lagu kombinasi D’Masiv, Agnez Mo, dan band-band lain yang gue rasa hanya populer di kalangan pembantu, dan jangan lupa kalo suaranya jauh lebih fals dari kentut gue di pagi hari.

Lalu ada satu cowok ini yang kalo udah pulang rumah bakal mulai berteriak dari siang sampai sore. Kegiatannya gak lebih dari isengin adek, kagetin mbaknya dan banting pintu. Lalu dengan suaranya yang udah 'puber' dia akan mulai berbicara seolah jakunnya ada mic, terkadang diisi suara ketawa yang sangat tidak cocok untuk telinga manusia dan juga ikutan nyanyi kayak mbaknya.

Dan seperti biasa, seorang adik yang tidak mengerti tentang dunia ini (dengan bodohnya) malah ikut menyumbangkan polusi suara lewat 'Duet-maut-bareng-koko' (which is fucking annoying) dan juga terkadang nangis berlebihan karena jadi korban kokonya yang emesh (double-fucking annoying).  Dan jangan lupa dia juga selalu teriak-teriak manggil mbaknya.

Diatas adalah deskripsi keluarga tetangga gue. Yang sebenernya gue pun gak pernah ketemu atau lihat mereka (Karena gue introvert dan gak mau berhubungan sama unnecessary people).

So the question remains, how did I managed to know nama pembokat mereka?

Nyokapnya adalah seorang ibu bersuara alto, dan tiap hari teriak dengan lemah,

‘RANI. RANI. RANI. RANI. RANI. RANI. RANI. RANI. RANI.’

Begitu terus diulang sampe si Rani jawab.

Tapi masalahnya, mbak Rani ini adalah pembantu gaul yang selalu dengerin lagu pake earphone pas lagi nyuci. Jadi kalo Rani gak jawab, paling dia ganti manggil si Tiwi... dan begitulah cerita gimana gue sampe tau nama pembokat mereka.

Gue pun sebenernya gak pengen bahas hal gak penting kayak mereka.

But, they’re getting worse.

Rumah gue bukanlah rumah yang kedap suara, dan ketika gue mulai lapor hal ini sama bos dirumah (baca: bokap dan nyokap), mereka cuman bilang dengan bijak... jangan cari masalah dan kita harus berusaha menjaga keharmonisan relasi antara kita dan tetangga.

(LIKE SERIOUSLY, WE DON’T EVEN TALK TO THEM FOR ONCE IN A MONTH.)

Anyway, recap:
1.       They sing a lot, and they can’t even sing.
2.       They scream a lot and it’s not healthy for them (and me as a victim.)
3.       I need meditation, but how? They’re ruining the peaceful of mind.

Well, I do hope one day they move for one or two reasons, tapi gue jauh lebih berharap mereka mati kehabisan suara. (And if one of you family ever read this thing, I'm not sorry for being a jerk, but you should be sorry.)

It's like Neighbors From Hell,
Penulisjournal.

hidup yang tidak sempurna

"Terakhir kali makan indomie kapan?" "Mungkin 2 tahun lalu kali ya, itu pun gak sengaja karena ditawarin." Kata Sam, tem...